Seluruh NTB Masuk Musim Kemarau

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kediri Lombok Barat (Lobar) mencatat, hampir semua wilayah NTB sudah masuk musim kemarau. Untuk itu, petani tadah hujan diimbau tidak melakukan penanaman komoditas pertanian tertentu seperti padi untuk menghindari gagal panen.

“Beberapa daerah memang sudah mulai ada yang tidak kebagian hujan selama satu bulan. Rata-rata seperti itu. Sehingga hampir semuanya masuk musim kemarau seluruh NTB di akhir Mei nanti,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kediri Lobar, Wakodim, SP, MM dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 17 Mei 2018 siang.

Iklan

Karena beberapa daerah sudah memasuki musim kemarau maka ketersediaan air sudah mulai berkurang. Sehingga untuk daerah-daerah tertentu penanaman komoditas-komoditas pertanian tertentu seperti padi harus disesuaikan dengan kondisi cuaca. Ia mengatakan, berdasarkan informasi dari BMKG, nantinya Dinas Pertanian yang akan memberikan rekomendasi kepada petani.

“Jangan memaksa menanam padi pada saat musim kering ini. Untuk komoditas padi yang utamanya daerah tadah hujan dihindari. Tapi yang sawah irigasi teknis masih bisa ditanam padi,’’ ujarnya.

Disinggung mengenai kemarau yang melanda NTB saat ini, Wakodim mengatakan kondisinya masih normal. Artinya, belum separah tahun lalu karena masih awal musim kemarau. Ia mengatakan, BMKG Stasiun Klimatologi Kediri akan terus memantau dan melakukan evaluasi. Musim kemarau yang melanda NTB tahun ini diprediksi akan berlangsung hingga  Oktober dan November mendatang.

Berdasarkan pantauan Stasiun Klimatologi Kediri Lobar sampai 10 Mei 2018, NTB waspada kekeringan. Curah hujan pada dasarian I bulan Mei 2018 di wilayah NTB secara keseluruhan berada pada kategori rendah. Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Rumak Lombok Barat (2 mm/dasarian). Curah hujan pada dasarian I Mei 2018 ini umumnya memiliki sifat hujan bawah normal.

Dari monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut – turut di sebagian besar wilayah NTB  menunjukkan pada kategori menengah (11 – 20 hari) hingga sangat panjang (31 – 60 Hari ). Beberapa wilayah dengan kategori sangat panjang yaitu di Lombok Timur (Lenek Duren, Labuhan Haji, Kota Raja, Pronggabaya, Sakra Barat, Kokok Putih Sembalun, Sikur, Sukamulia, Rarang Selatan). Kemudian Lombok Tengah (Batu Nyala, Mujur, Mertak, Praya), Kab. Lombok Barat (Banter Gerung), Kab. Sumbawa (Plampang).

Selanjutnya, Dompu (Pajo) dan Bima (Bolo, Lambu, Madapangga, Sape, Sape 2, Wawo). HTH terpanjang terpantau di pos hujan Sape 2 Bima (52 hari). Sementara itu kondisi suhu muka laut di perairan NTB menunjukan kondisi netral cenderung dingin. Analisis angin menunjukkan angin timuran dominan dan akan menguat.

Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di wilayah NTB. Sehingga peluang terjadinya hujan juga semakin berkurang. Pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini tidak aktif di wilayah Indonesia.

Ditambahkan, dari monitoring awal musim kemarau, 90 persen  pos hujan di wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau (3 dasarian berturut – turut di bawah 50 mm), kecuali zom 222 (Kota Mataram, dan Lombok Barat Bagian Barat). Akan tetapi terdapat indikasi masuknya musim kemarau di Zom 222 pada dasarian II Mei.

Meskipun demikian, masih adanya peluang terjadinya curah hujan > 20 mm/dasarian di beberapa wilayah NTB pada dasarian II Mei 2018. Yaitu di wilayah Lombok bagian Timur dan Lombok bagian Barat Daya, Sumbawa, serta Bima bagian dengan nilai probabilitas sebesar 80 – 90 persen. Dengan berkurangnya potensi curah hujan seiring masuknya musim kemarau ( <50 mm/dasarian), perlu diwaspadai adanya potensi terjadinya bencana kekeringan pada periode musim kemarau tahun 2018 di NTB. (nas)