Selidiki Indikasi Pencucian Uang

I Gusti Putu Gede Ekawana (Suara NTB/dok)

Polda NTB memulai penyelidikan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) investasi berbagi modal usaha kuliner Dapoer Emak Caca. Modal yang disetor pemodal perorangan diduga digunakan untuk keperluan pribadi tersangka LS.

Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana mengatakan, surat perintah penyelidikan (Sprinlid) pengusutan TPPU tersebut sudah diterbitkan. “Iya sudah keluar (Sprinlid),” ujarnya dikonfirmasi Minggu, 29 November 2020.

Penyelidikan TPPU ini melalui Subdit II Investasi dan Perbankan Ditreskrimsus Polda NTB. Setelah pidana pokoknya diusut lebih dulu. Yakni dugaan penipuan dan penggelapan yang disangkakan terhadap tersangka LS, pemilik usaha Dapoer Emak Caca. Penanganan pidana pokoknya ini digarap Polresta Mataram. “Dari sana pengembangan TPPU-nya,” kata Eka.

Penyelidikan TPPU ini tahapan awalnya mengklarifikasi saksi-saksi korban. Berikut pola transaksi penanaman modal dan penggunaan modal tersebut. dugaannya dana investasi dipakai membeli lahan di Kuta, Pujut, Lombok Tengah, dan Senggigi, Batulayar, Lombok Barat. ‘’Kita telusuri asetnya yang berkaitan dengan pidana asalnya,’’ katanya.

Dia menyebutkan, penanganan dugaan penipuan dan penggelapan sudah ditangani di tahap penyidikan. Pemilik usaha LS sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sejauh ini sudah ada sekurangnnya 100 orang yang mengadu menjadi korban investasi tersebut.

Tapi mereka ini sifatnya masih konsultasi pengaduan. Nanti akan dipilah mana yang benar-benar belum ada pengembalian dan mana yang investasinya pada unit usaha yang diduga fiktif.

Di sisi lain, kuasa hukum pelapor korban penipuan, Lalu Anton Hariawan mengatakan pihaknya mendampingi 27 orang korban yang diduga merugi Rp4 miliar. “Mereka ini berinvestasi sejak tahun 2019. Uangnya sampai sekarang belum kembali,” terangnya.

Dia menghimpun bukti dugaan tersangka LS membeli dua bidang tanah di Kuta, Pujut, Lombok Tengah. Total luasnya 21 are. Lahan itu sudah beralih hak dengan atas nama pemilik SHM 1765 dan SHM 1766 atas nama LS. (why)