Selaparang dan Sandubaya Sumbang Kemiskinan Paling Tinggi

Mataram (Suara NTB) – Penduduk miskin di Kota Mataram berdasarkan data Badan Pusat Statistik di tahun 2015 sebanyak 10,56 persen. Jumlah ini paling banyak tersebar di dua kecamatan.

Adalah, Kecamatan Sandubaya dan Selaparang. Populasi penduduk miskin 12,60 persen dan 11,78 persen. Kecamatan lainnya seperti Ampenan tingkat kemiskinan mencapai 9,48 persen, Sekarbela 10,20 persen, Mataram 7,95 persen dan Cakranegara 10,06 persen.

Iklan

Camat Sandubaya, M. Syamsul Adnan menyebutkan, total masyarakat tergolong miskin sesuai data penerima beras sejahtera 5.816 jiwa. Sedangkan, penerima program keluarga harapan 1.987 jiwa. Penerima bantuan itu tersebar di tujuh kelurahan. Tapi secara kuantitas penduduk miskin tersebar di Kelurahan Selagalas dan Mandalika.

“Data diverifikasi tahun 2015 melalui pendataan dilakukan oleh BPS,” kata Camat Sandubaya.

Syamsul mengakui dari segi pendapatan masyarakat di Kecamatan Sandubaya rata – rata mengandalkan upah dari profesi mereka sebagai petani dan buruh. Pekerjaan dilakoni warga tidak terlepas dari tingkat pendidikan mereka.

Dia menjelaskan, kemiskinan ini sebenarnya banyak penyebab dan salah satunya dipicu oleh tingkat pendidikan. Selanjutnya berimplikasi terhadap kecenderungan nikah muda.

“Korelasinya paling menonjol tingkat pendidikan, sehingga mereka kesulitan mencari lapangan pekerjaan,” jelasnya.

Meskipun warga terserap di sektor informal. Tetapi mereka bekerja sebagai buruh kasar. Tenaga profesional didatangkan dari luar kecamatan bahkan luar Kota Mataram.

Faktor di luar itu juga, masyarakat terjerat rentenir atau bank rontok. Mereka meminjam sejumlah uang di koperasi simpan pinjam. Persoalan ini sudah ditanggulangi melalui intervensi mendatangkan bank konvensional dengan suku bunga rendah.

“Berjalan hampir dua tahun. Warga sudah beralih dari bank rontok ke bank konvensional,” sebutnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, H.L. Indra Bangsawan mengatakan, persoalan kemiskinan adalah masalah yang kompleks sehingga perlu ditangani terarah, terpadu dan menyeluruh. Karena beberapa faktor pemicu munculnya kemiskinan di Kota Mataram disebabkan oleh tingkat pendapatan rendah, kualitas kesehatan buruk, tingkat pendidikan yang rendah. Akses barang dan jasa yang kurang serta kondisi lingkungan kumuh.

“Banyak penyebab kalau soal kemiskinan tidak bisa dilihat dari satu sisi saja,” terangnya.

Penanganan kemiskinan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Perlu kerjasama Pemprov, masyarakat dan dunia usaha. Diakui, target penurunan satu persen ditetapkan oleh Pemprov NTB dalam kurun satu tahun merupakan penyemangat. Oleh karena itu, SKPD dalam program mereka harus memprioritaskan pengurangan kemiskinan.

Beberapa program penanggulan kemiskinan diintervensi Disos dengan memberi bantuan sosial kepada fakir miskin berupa kegiatan KUBe, PKH, program e – warong dan pemberian bantuan pangan non tunai.

Demikian pula, pendampingan sosial meningkatkan keterampilan seperti pelatihan diadakan pendampingan terhadap eks napi, penggunaan narkoba dan pemulung. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here