Selama Ramadhan, Kegiatan Keagamaan di Islamic Centre Harus Terapkan Prokes

Suasana Dialog/Kajian Ramadhan yang digelar setiap selesai Salat Zuhur selama Ramadhan di Masjid Hubbul Wathan Islamic Centre. (Suara NTB/ham)

Mataram (Suara NTB) – Penerapan protokol kesehatan (prokes) pada pelaksanaan kegiatan keagamaan di Islamic Centre tidak boleh diabaikan. Petugas yang bertugas di lapangan meminta setiap jemaah yang datang mematuhi penggunaan prokes. Begitu juga petugas harus memberikan contoh dengan menerapkan prokes, sehingga para jemaah mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

Penegasan ini juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB H. Yusron Hadi, S.T., M.U.M., pada Suara NTB, Minggu, 9 Mei 2021. Sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang mengelola Islamic Centre, Dispar NTB meminta staf yang bertugas di lapangan untuk mengingatkan agar tetap menerapkan prokes. Termasuk memfasilitasi jemaah yang tidak membawa masker atau sajadah sendiri agar tetap beribadah.

Iklan

Seperti pada hari Minggu, 9 Mei 2021 dan hari-hari sebelumnya, jemaah yang datang ke Masjib Hubbul Wathan Islamic Centre harus mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Para jemaah harus menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan menggunakan sabun hingga membawa sajadah sendiri. Jemaah yang tidak membawa sajadah dan tidak menggunakan masker harus salat terpisah di lokasi yang sudah ditetapkan.

Pada hari Minggu kemarin, Kajian Badha Subuh disampaikan TGH. Mahali Fikri, sementara Dialog atau Kajian Ramadhan usai Salat Zuhur disampaikan Dr. TGH. Abdul Aziz Sukarnawadi, MA., yang menyampaikan tema Hukum dan Tata Cara Zakat Fitrah.

Dalam penyampaian kajiannya, TGH. Abdul Aziz Sukarnawadi menjelaskan, jika zakat adalah penyucian. Untuk itu, pada umat Islam yang sudah berzakat agar menjadi insan yang lebih bersih, suci, baik zahir maupun bathin. ‘’Semua itu dengan mudah diperoleh dengan membayar zakat, zakat fitrah dan lain-lainnya. Termasuk yang sunnah-sunnah, berupa sedekah,’’ terangnya.

Menurutnya, dalam berzakat, terutama dari sisi Fiqihnya, tidak terlalu rumit. Tapi kalau dikaji terlalu mendetail membutuhkan waktu cukup panjang, khususnya dari sisi hitungan zakatnya. Dalam berzakat, pihaknya mengingatkan lebih penting disampaikan langsung pada amil atau lembaga yang bertugas menerima dan menyalurkan zakat, baik yang dibentuk oleh pemerintah maupun masyarakat. Namun, menyalurkan langsung pada masyarakat miskin yang membutuhkan tidak dipermasalahkan.  Meski demikian, dalam membayar zakat harus diperhatikan masalah niat juga harus diperhatikan. Termasuk pada siapa dan kondisi yang wajib menerima zakat.

Selain menggelar Dialog/Kajian Ramadhan, selama bulan Ramadhan  juga digelar Salat Tarawih, Kuliah Tujuh Menit Ramadhan, Tilawah Ramadhan dan Salat-salat malam. Pelaksanaan kegiatan ini dengan tetap menerapkan prokes yang ketat. (ham)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional