Selama Ramadan, Restoran dan Rumah Makan Siap Saji Tetap Buka

Mataram (Suara NTB) – Kebijakan Pemkot Mataram mungkin sedikit berbeda dengan kabupaten/kota lain. Dimana, selama ramadan restoran dan rumah makan siap saji dibiarkan tetap terbuka. Dengan syarat pelayanannya tidak terlalu mencolok atau vulgar.

Demikian disampaikan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh dikonfirmasi usai rapat koordinasi dengan pimpinan SKPD dan camat di Pendopo Walikota, Jumat, 19 Mei 2017. “Memang ada di beberapa tempat yang kita berikan toleransi untuk tetap buka, tapi tidak mencolok,” katanya.

Iklan

Kebijakan tersebut oleh walilota mempertimbangkan karena Kota Mataram sebagai daerah yang menerima kunjungan wisatawan dari luar daerah, termasuk wisatawan mancanegara. Mereka biasanya tidak puasa, sehingga membutuhkan tempat makan.

Berbeda halnya dengan warung – warung kecil di dekat pemukiman penduduk termasuk hiburan keluarga, justru diatur jadwal buka mereka. Pedagang hanya diperbolehkan berjualan mulai pukul 16.00 Wita sampai 04.00 Wita. “Nanti kita atur kapan mereka boleh buka. Iya, termasuk hiburan keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan itu bukan berarti tidak mengedepankan azas keadilan antara pengusaha kecil dengan pengusaha besar. Pertimbangannya memperhatikan kebutuhan wisatawan.

Namun demikian, akan dilihat seperti apa perkembangan ke depan. Restoran dan rumah makan siap saji di mall maupun berdiri sendiri akan diperiksa. Artinya, mereka harus memahami serta menghormati orang yang  berpuasa.

Walikota menambahkan, kebiasaan yang dilakukan setiap tahun memasuki ramadan dengan melakukan persiapan-persiapan menciptakan suasana khusyuk. Seperti melakukan penertiban dan mengeluarkan edaran.

Kebijakan dikeluarkan oleh Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh justru menuai kritikan dari masyarakat. Mereka menganggap pemerintah hanya mementingkan pengusaha besar dan tidak mempedulikan rakyat kecil. Semestinya, aturan itu harus mengikat dan tidak boleh ada pembedaan satu sama lain.

“Pemerintah tidak adil dong kalau gitu. Restoran dikasih buka sedangkan warung kecil dilarang. Orang kan sama – sama cari rezeki,” kritik Dira.

Pemerintah mesti tegas. Kunjungan wisatawan jangan menjadi alibi untuk memuluskan usaha pemilik modal. Walaupun Mataram juga dihuni oleh warga non muslim, tetapi harus sama-sama saling menghargai dan menghormati satu sama lain. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here