Selama Juni – Juli, Dinas LHK Catat 403 Titik Api di NTB

Astan Wirya (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB menyebutkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama Juni dan Juli 2021 seluas 28,85 hektare. Sementara itu, selama Juni dan Juli, tercatat 403 titik api atau hotspot di NTB.

Kepala Seksi Penegakan Hukum Dinas LHK NTB, Astan Wirya, S.H., M.H., dikonfirmasi Suara NTB, Senin, 26 Juli 2021 mengatakan karhutla pada bulan Juni seluas 3,85 hektare. Terjadi di BKPH Pelangan Tastura seluas 1,5 hektare, BKPH Brang Rea Puncak Ngengas 1,85 hektare dan BKPH Batu Lanteh 0,5 hektare. Sedangkan pada bulan Juli, Karhutla yang terjadi di NTB seluas 25 hektare di BKPH Rinjani Timur.

Iklan

Sementara itu, jumlah titik api yang terdeteksi di NTB selama Juni dan Juli sebanyak 403 hotspot. Pada bulan Juni, kata Wirya, jumlah titik api di NTB sebanyak 267. Hampir seluruhnya berada di Pulau Sumbawa.

Sedangkan pada bulan Juli, sampai tanggal 14 Juli 2021, terdeteksi sebanyak 136 titik api di NTB. Ratusan titik api tersebut berada di Pulau Sumbawa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat seluas 52.479 hektare terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia sejak Januari – 30 Juni 2021. Dari jumlah tersebut, seluas 5.762 hektare terjadi di lahan mineral di NTB.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., mengatakan berdasarkan data Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),  akumulasi sementara luas karhutla 1 Januari hingga 30 Juni 2021 seluas 52.479 hektare. Luas karthula pada periode ini lebih tinggi dibandingkan luas karhutla pada periode yang sama pada 2020 lalu.

Tercatat luas karthula periode Januari hingga Juni 2020 seluas 43.882 hektare. Pada Januari – Juni 2021 terdapat penambahan akumulasi luas karhutla sebesar 8.597 hektare atau 16,3 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020.

Luas terbakar pada periode 1 Januari hingga 30 Juni 2021 ini didominasi terbakarnya lahan mineral, yaitu seluas 33.313 hektare. Sedangkan sisanya berada di lahan gambut.

Muhari menyebutkan lima wilayah tertinggi yang teridentifikasi adanya karthula pada lahan mineral yaitu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) seluas 13.131 hektare, Nusa Tenggara Barat (NTB) seluas 5.762 hektare, Kalimantan Barat 3.174 hektare, Kepulauan Riau 1.490 hektare dan Papua 1.428 hektare.

Sedangkan lima wilayah tertinggi karhutla di lahan gambut berada di Kalimantan Barat dengan 11.570 hektare, Riau 6.156 hektare, Kalimantan Tengah 530 hektare, Aceh 304 hektare dan Sumatera Utara 286 hektare.

Ia menambahkan, pada periode Juni 2021, karthula lahan mineral masih lebih tinggi dibandingkan lahan gambut. Kementerian LHK mencatat rekapitulasi sementara luas karhtula pada periode 1 – 30 Juni 2021 seluas 17.661 hektare. Dengan rincian karhutla lahan mineral 17.375 hektare dan gambut 286 hektare.

Menghadapi kondisi cuaca pada Agustus hingga Oktober 2021, BNPB meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat provinsi untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan kesiapsiagaan. Delapan langkah disampaikan secara tertulis BNPB kepada 34 BPBD provinsi untuk penanggulangan karhutla di masing-masing wilayah. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional