Selama 2018, Kiriman Uang TKI ke NTB Mencapai Rp1,22 Triliun

Ilustrasi uang (Sumber Foto : Pxhere)

Mataram (Suara NTB) – Selama tahun 2018, jumlah kiriman uang TKI yang tercatat dari bank dan kantor POS masuk ke NTB sebesar Rp1,22 triliun. Besaran kiriman para buruh migran ini tercatat menurun Rp340 miliar dibandingkan tahun 2017 lalu sebanyak Rp1,56 triliun.

Kiriman uang oleh TKI ini, tujuannya tersebar ke seluruh kabupaten/kota dengan porsi yang beragam. Tertinggi tujuan pengiriman ke Kabupaten Lombok Timur sebesar 23,33 persen, Lombok Tengah 22,17 persen, Kabupaten Sumbawa 10,77 persen, Lombok Barat 10,13 persen, Kabupaten Sumbawa Barat 9,91 persen, Kota Mataram 9,40 persen, Kabupaten Bima 5,07 persen, Kabupaten Dompu 3,94 persen, Lombok Utara 3,67 persen dan Kota Bima 1,60 persen.

Iklan

“Kiriman ini terhitung sejak Januari 2018 sampai dengan November 2018,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Suntono di kantornya, Rabu, 2 Januari 2019 kemarin.

Masih menurut Suntono, dengan kiriman uang dari TKI yang masuk ke NTB, tercatat sumbernya dari beberapa negara penempatan. Kiriman tertinggi dari TKI yang bekerja di Saudi Arabia porsinya 53,71 persen, Uni Emirat Arab 4,43 persen, Malaysia 3,31 persen, Kuwait 1,13 persen, Jepang 1,39 persen, Qatar 0,38 persen dan negara-negara lain 35,07 persen.

Jika dikelola dengan baik, remitansi TKI sebesar ini dampaknya tak kecil terhadap perekonomian daerah. Kalau saja, keluarga TKI, maupun purna TKI memanfaatkannya pada hal-hal yang bersifat produktif.

Sayangnya, tidak sedikit pula yang mengarahkan kiriman TKI untuk kebutuhan-kebutuhan konsumtif, membeli perabot rumah tangga, kendaraan, ponsel mewah atau sejenisnya. Jarang yang mengembangkannya menjadi modal usaha. Akibatnya, tingkat strata sosial masyarakat tetap saja tak berubah signifikan.

Karena itulah, pentingnya dilakukan pemberdayaan untuk membantu. Agar jangan sampai mereka yang menjadi TKI selama berstatus buruh migran.

“Keluar masuk negara orang menjadi TKI. Mereka bisa berdayakan agar terampil, memanfaatkan hasil yang didapatkan di luar negeri menjadi modal usaha. Mereka sudah punya modal besar untuk diarahkan,” demikian Suntono. (bul)