Sekolah Sambut Baik Simulasi PTM Penuh

Suasana simulasi PTM penuh di SMAN 4 Mataram pada Senin, 3 Januari 2022. (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) –  Sekolah menyambut baik pelaksanaan simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) penuh atau normal jenjang SMA, SMK, dan SLB yang dimulai Senin, 3 Januari 2022.Pihak sekolah mengharapkan simulasi berjalan dengan baik sehingga PTM penuh dapat berjalan dengan normal kembali.

Salah satu sekolah yang melaksanakan simulasi PTM penuh yaitu SMAN 4 Mataram. Dari pantauan Suara NTB, Senin, 3 Januari 2022, setiap kelas di SMAN 4 Mataram dipenuhi oleh siswa, tidak lagi seperti PTM terbatas yang hanya disi setengah dari kapasitas ruang kelas. Siswa juga duduk berdua dalam satu meja.

Iklan

Kepala SMAN 4 Mataram, Jauhari Khalid mengatakan pihaknya menyelenggarakan PTM penuh sesuai instruksi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB. Pihaknya memilih pola enam jam pelajaran, dengan durasi satu jam pelajaran selama 45 menit. “Semua siswa masuk sekolah mengikuti pembelajaran tatap muka,” ujarnya.

Pihaknya menyambut baik pelaksanaan PTM penuh ini. fasilitas protokol kesehatan disiapkan pihaknya. Termasuk piket untuk melakukan pengecekan suhu tubuh dan protokol kesehatan saat siswa datang ke sekolah.

“Kami sangat menyambut baik, bahkan ini menjadi keinginan para guru dan siswa, supaya pembelajaran bisa normal sesuai sedia kala. Kami tetap awasi penggunaan maskernya, kemudian tempat kumpul siswa sudah kita batasi,” ujarnya.

Pihaknya berharap,dalam simulasi ini tidak terjadi kasus penyebaran Covid-19 lagi. “Bisa kita pertahankan kondisinya, sehingga bisa layak untuk PTM penuh,” ujar Khalid.

Dihubungi terpisah, Kepala Cabang Dinas Dikbud NTB di Lombok Barat-Mataram, Dr. Lalu Basuki Rahman mengatakan, sebanyak 52 SMA, SMK, dan SLB negeri di Lombok Barat dan Mataram mengikuti PTM penuh. Namun, bagi sekolah yang berdekatan seperti SMKN 3 Mataram dan SMKN 4 Mataram melaksanakan PTM penuh secara bergiliran.

“Pada minggu pertama, SMKN 3 Mataram melaksanakan PTM penuh, sedangkan SMKN 4 Mataram melaksanakan PTM terbatas. Begitu sebaliknya pada minggu kedua, giliran SMKN 4 melaksanakan PTM penuh, dan SMKN 3 PTM terbatas,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., ditemui pekan kemarin mengatakan, PTM penuh diikuti oleh satuan pendidikan yang berada pada PPKM level 1 atau PPKM level 2 dengan ketentuan satuan pendidikan dengan capaian vaksinasi dosis 2 pada pendidik dan tenaga kependidikan di atas 80 persen. “PTM dilaksanakan setiap hari dan bisa dihadiri 100 persen dari kapasitas ruang kelas; dan lama belajar paling banyak enam jam pelajaran per hari,” ujar Aidy.

Sementara itu, bagi satuan pendidikan dengan capaian vaksinasi dosis 2 pada pendidik dan tenaga kependidikan sebanyak 50 persen sampai dengan 80 persen, maka pembelajaran tatap muka dilaksanakan setiap hari secara bergantian. Jumlah peserta didik 50 persen dari kapasitas ruang kelas. Serta lama belajar paling banyak enam jam pelajaran per hari.

Sedangkan untuk satuan pendidikan dengan capaian vaksinasi dosis 2 pada pendidik dan tenaga kependidikan di bawah 50 persen pembelajaran tatap muka dilaksanakan, maka PTM setiap hari secara bergantian dengan jumlah peserta didik 50 persen dari kapasitas ruang kelas. Lama belajar paling banyak empat jam pelajaran per hari.

Aidy menjelaskan, alasan atau pertimbangan pihaknya melaksanakan simulasi PTM penuh yaitu hasil evaluasi terakhir pelaksanaan simulasi tatap muka terbatas SMA/SMK/SLB lingkup Dinas Dikbud NTB yang menunjukkan bahwa pelaksanaan simulasi tatap muka terbatas tidak berdampak terhadap kesehatan warga sekolah. Selain itu, vaksinasi terhadap pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik telah melewati persentase 80 persen.

“Data-data primer seperti laporan pengawas sekolah, hasil survei dan observasi langsung tim Dinas Dikbud NTB menunjukkan bahwa sebagian besar SMA/SMK/SLB sangat siap melaksanakan layanan tatap muka secara penuh. Kesiapan ini didukung dengan sarana pendukung yang dibutuhkan seperti masker, tempat cuci tangan, ruang isolasi/UKS, dan tingkat kedisiplinan guru dan peserta didik dalam menerapkan protokol Covid-19 menunjukkan tren yang makin positif,” jelas Aidy.

Selain itu, adanya masukan dari orang tua siswa yang berharap agar anak mereka tetap bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka, semata-mata untuk mengurangi potensi ketidakmaksimalan orangtua dalam mendampingi anak mereka belajar di rumah.

Menurutnya, alasan lainnya karena adanya harapan yang sangat tinggi dari peserta didik agar sekolah segera dibuka untuk pembelajaran tatap muka, mengingat belajar dari rumah (BDR) dirasakan kurang optimal bila dibandingkan dengan belajar secara langsung di sekolah.

“Kekhawatiran sebagian besar masyarakat akan terjadinya learning loss, yakni situasi di mana tidak adanya proses belajar dalam waktu lama akan menyebabkan hilangnya motivasi dan orientasi belajar peserta didik,” jelas Aidy.

Di samping itu, sebagian besar guru dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan sudah mendapatkan vaksin penuh dosis 1 dan 2 yang angkanya rata-rata di atas 80-90 persen, sementara sebagian besar siswa juga telah mendapatkan vaksin lengkap dosis 1 dan 2 dengan angka di atas 80 persen. “Pembelajaran tatap muka terbatas dinilai kurang efektif dari segi waktu, manajemen, maupun hasil sehingga pola belajar shift/block cukup memberatkan satuan pendidikan,” ujar Aidy.

Aidy menjelaskan, monitoring dan evaluasi oleh Dinas maupuan Cabang Dinas dilakukan secara berkala baik harian, mingguan, dan bulanan. “Hasil laporan yang dikirimkan oleh masing-masing sekolah secara daring diolah oleh Dinas Dikbud NTB sebagai dasar evaluasi dan kegiatan tindak lanjut strategi berikutnya,” ujarnya. (ron)

Advertisement