Sekolah Rusak di Lombok Tengah Segera Diperbaiki

H. Sumum ( Suara NTB/ris)

Praya (Suara NTB) – Jumlah bangunan sekolah yang rusak di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) terutama di bawah tanggung jawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Loteng sebanyak tiga persen dari jumlah total 785 unit SD dan SMP. “Yang perlu penanganan segera itu hanya tiga persen dari jumlah lembaga pendidikan di bawah Dinas Pendidikan Loteng. Dimana jumlah SD di Loteng 614 unit dan SMP 171 unit,” kata Kepala Dinas Dikbud Loteng, H. Sumum, M.Pd kepada Suara NTB, Senin, 3 Februari 2020.

Ia mengatakan, dari 3 persen sekolah yang rusak tersebut, ada yang kondisinya rusak berat serta ada yang rusak sedang. Bangunan sekolah yang rusak berat dan rusak sedang berbeda pola perbaikannya. Untuk sekolah yang rusak berat, pihak yang akan memperbaiki adalah Kementerian PUPR, bukan lagi menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Iklan

“Dana pusat itu memang dibolehkan untuk bangunan sekolah yang rusak berat, sehingga kita berharap Kementerian PUPR segera turun, sehingga Dinas PUPR bisa segera mengeksekusi sekolah yang rusak berat tersebut,” kata Sumum. Sementara untuk bangunan sekolah yang rusak sedang akan diintervensi melalui DAK dengan persyaratan tertentu, karena penggunaan dana DAK untuk rehab gedung sekolah melalui proses yang cukup panjang.

“Misalnya harus masuk daftar usulan itu melalui aplikasi Krisna yang dilakukan oleh Bappeda. Setelah melalui aplikasi Krisna, kemudian harus disingkronkan dengan data pokok pendidikan atau Dapodik yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. Nanti harus bertemu pada proses singkronisasi itu,” terangnya. Sumum mengatakan, jika daftar usulan perbaikan sekolah tersebut tidak masuk di Dapodik, maka usulan dianggap tidak benar meskipun kondisi fisiknya memang butuh perbaikan.

“Jika kondisinya rusak berat namun tidak masuk di Dapodik, maka kita minta perbaiki di Dapodiknya, karena Dapodik itu muncul dari sekolah. Namun jika kondisi rusak berat, namun di Dapodik tidak muncul, berarti dianggap sekolah ini tidak butuh. Itu jadi kendala,” terangnya. Faktor penyebab rusaknya bangunan sekolah kata Sumum bermacam-macam, mulai karena faktor bencana alam, di makan usia atau karena rayap.

Ada banyak bangunan sekolah di Loteng yang kayunya cukup rentan dimakan rayap. Misalnya sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Praya Timur dan Praya Barat Daya. “Sehingga daerah yang rentan dengan rayap kita anjurkan menggunakan baja ringan dalam perbaikannya,” katanya. Ia menegaskan, sekolah-sekolah yang rusak berat dan rusak sedang tersebut akan diperbaiki tahun ini baik melalui Kementerian PUPR maupun dengan DAK.

“Mudahan akhir tahun ini akan tuntas. Namun tidak menjamin sekolah kita baik semua, karena kondisi cuaca juga sangat mempengaruhi bangunan. Karena ada beberapa sekolah yang rusak karena puting beliung,” tutupnya. (ris)