Sekolah Kesulitan Kembangkan Ekskul Andalan selama Pandemi

Ilustrasi Ekskul di Sekolah (Sumber : BeritaBaik/Perkusi SMA19/ist)

Mataram (Suara NTB) – Setiap sekolah memiliki ekstrakurikuler (Ekskul) yang jadi andalan sekolah. Namun selama pandemi Covid-19 ini, pihak sekolah kesulitan mengembangkan ekskul andalan tersebut.

Salah satunya yang dialami SMAN 7 Mataram. Kepala SMAN 7 Mataram, Munawar mengatakan, salah satu ekskul yang menjadi andalan di SMAN 7 Mataram yaitu perkusi. Diakuinya penyaluran kreativitas siswa selama pandemi Covid-19 sulit dilakukan, karena latihan di sekolah juga tidak bisa karena larangan membuat kerumunan.

Iklan

“Untuk perkusi yang juga ada tariannya, kami kesulitan, saat kegiatan Pojok Ekspresi di halaman Dinas Dikbud NTB beberapa waktu lalu cara melatihnya agak susah, karena membutuhkan tempat yang luas,” katanya.

Siswa terpaksa menyiasatinya dengan latihan di tempat kelompok. Untuk perkusi ini, pihaknya bekerja sama dengan alumni SMAN 7 Mataram yang memiliki sanggar. Latihan lebih banyak dilakukan di sanggar. “Tetap latihan tapi tidak seintens sebelum pandemi,” ujarnya.

Menurutnya, anggota ekskul perkusi semakin banyak. Saat ini anggota mencapai 50 orang. Menariknya, kata Munawar, anggota lebih banyak perempuan, karena ada juga tari-tarian yang diiring perkusi.

latihan-latihan atau persiapan terbatas tetap difasilitasi, seperti ketika ada lomba. Namun jumlahnya sangat terbatas, mengingat larangan membuat kerumunan. Kalau ekskul dibuka secara umum masih belum boleh. “Latihan reguler yang tidak ada,” katanya.

Sementara itu untuk proses belajar mengajar masih tetap dengan konsep Belajar dari Rumah (BDR) secara daring. Sedangkan siswa yang tidak memiliki sarana seperti tidak memiliki ponsel dilayani dengan BDR luring melalui guru kunjung.

Terpisah Kepala SMPN 5 Mataram, Muhamad Ali menyampaikan, upaya memfasilitasi siswa lewat ekskul sulit dilakukan karena SMP di Mataram belum boleh dibuka. Sekolah hanya mempersiapkan siswa yang mengikuti Kompetisi Sains Nasional (KSN). “Itu saja pembinaan anak-anak ketika akan mengikuti lomba, lomba sains atau lomba olahraga,” katanya.

Pembinaan yang dilakukan juga terbatas, tidak melibatkan banyak guru dan siswa. Pihaknya memantau melalui wakil kepala bidang kesiswaan. (ron)