Sekolah Harus Patuhi Pedoman BDR

Mansur Sipinathe (Suara NTB/dok), Ermawanti (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan konsep Belajar dari Rumah (BDR) dikhawatirkan membuat siswa stres, terutama jika tugas menumpuk diberikan ke siswa. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, pihak terkait hususnya Dinas Pendidikan agar memastikan sekolah mematuhi pedoman penyelenggaran BDR.

Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), yang juga dari Serikat Guru Mataram, Mansur Sipinathe pada Selasa, 27 Oktober 2020 menyampaikan, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, Dinas Pendidikan harus memastikan agar sekolah mematuhi Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah (BDR).

Iklan

“Pedoman ini mengatur berbagai cara BDR yang disesuaikan dengan kondisi siswa, sehingga tidak terjadi pemaksaan satu model, misalnya daring, sementara siswa kesulitan sinyal internet,” katanya.

Di samping itu, Dinas Pendidikan dapat menginstruksikan agar sekolah menerapkan Kepmendikbud No. 719/P/2020 tentang Pelaksanaan Kurikulum Darurat dalam Kondisi Khusus. Mansur menyampaikan, kurikulum darurat akan meringankan beban belajar siswa, guru, dan orang tua sehingga anak tidak stres.

“Kurikulum darurat memberikan penyederhanaan materi-materi esensial dan sekolah tidak diwajibkan untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) NTB, Ermawanti menyampaikan, IGI NTB berharap agar Kemendikbud beserta jajarannya sampai ke daerah mengevaluasi dengan baik pelaksanaan BDR. ”Dan mencari solusi agar BDR tidak menimbulkan stres berkelanjutan bagi siswa,” katanya.

Adanya kasus siswi SMA di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan diduga bunuh diri, karena banyaknya tugas sekolah daring, menurut Ermawanti perlu menjadi perhatian. Pihaknya menganggap ini salah satu permasalahan yang timbul dari pembelajaran secara daring. Diakuinya selalu ada dampak, baik dampak positif atau negatif.

Menurutnya, sebenarnya Kemendikbud sudah cukup bagus mengeluarkan petunjuk teknis atau kurikulum darurat untuk pembelajaran jarak jauh secara daring, yaitu tidak mengejar ketuntasan materi. “Namun bagaimana agar peserta didik mau membaca sehingga kognitif anak tetap jalan. Walau dengan sangat sederhana. Permasalahan kadang muncul dari banyaknya tugas yang diberikan kepada peserta didik, sehingga memicu stres anak. Apalagi jika ada beban ekonomi dan lain-lain,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Seksi Kurikulum pada Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud NTB, Purni Susanto mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi guru-guru, terkait pembelajaran jarak jauh selama ini. “Kami akan evaluasi guru-guru kami apakah mereka tetap on the track atau bagaimana. Apalagi anak-anak sudah lebih dari enam bulan berdima di rumahnya,” katanya.

Sebelumnya Purni mengatakan, banyaknya keluhan orang tua maupun siswa terkait belajar daring saat ini memang tidak bisa dipungkiri. Menurutnya hal itu disebabkan beberapa hal, antara lain, karena target materi yang terlalu berorientasi pada kuantitas bukan pada kualitas prosesnya. Ia mengatakan, sebaiknya materi pembelajaran agar diberikan sesuai prioritas.

“Misalnya dimulai dari pemberian materi yang sederhana dahulu dan menghindari memberikan materi yang kompleks. Jangan berpikir untuk segera pindah ke materi berikutnya bila sebagian besar siswa tidak memahami,” katanya. (ron)