Sekolah Harus Atur Pengantaran dan Penjemputan Siswa

Siswa saat menunggu jemputan di depan SMAN 2 Mataram, pada Jumat (27/8).(Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Rentanya terjadi kerumunan saat kepulangan siswa perlu disikapi oleh pihak sekolah. Pihak sekolah harus mengatur proses pengantaran dan penjemputan siswa.
Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB di Lombok Barat (Lobar)-Mataram, Dr. Lalu Basuki Rahman mengatakan, kerumunan sepertinya terjadi saat kedatangan siswa dan kepulangan siswa. Ia mengimbau sekolah agar mengatur siswa dan mengatur proses pengantaran dan penjemputan agar tidak terjadi kerumunan.

“Caranya jika penjemputan dilakukan di luar gerbang sekolah, maka siswa yang dijemput saja dipanggil keluar halaman sekolah. Saat pengantaran masuk sekolah, pengantar diimbau masuk langsung ke tempat parkir dalam halaman agar tidak menumpuk dan berkerumun di jalan depan sekolah,” saran Lalu Basuki.

Iklan

Selain itu, ia juga menyarankan agar kelas-kelas dalam sif yang sama tidak dipulangkan serentak, tetapi bertahap dengan jeda 10 menit sampai 20 menit. “Misalnya bisa kelas X IPS 1 pulang duluan terus digilir dengan kelas X IPS 2 dan seterusnya,” sarannya.

Mantan Kepala KCD Kabupaten Lombok Utara ini juga meminta sekolah mengaktifkan Satgas Covid-19 di sekolah. Satgas Covid-19 sekolah agar melibatkan semua unsur civitas sekolah, seperti OSIS, pramuka, rohis, guru, pegawai, dan satpam.
“Satgas Covid ini yang mengawasi dan mengarahkan agr tidak terjadi kerumunan di dalam dan depan sekolah. Satgas covid juga membuat spanduk-spanduk sosialisasi dan edukasi tentang protokol kesehatan ketat di dalam dan depan sekolah,” sarannya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., mengatakan, dengan adanya kebijakan pembelajaran tatap muka terbatas dibuka kembali, pihaknya meminta sekolah menyiapkan diri untuk menggelar pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring secara bergantian.

Aidy juga menegaskan, protokol kesehatan wajib diperketat dan disiplin. Ia juga meminta durasi pembelajaran tidak terlalu lama. “Dari ketentuan 3,5 jam, sekolah boleh atur durasi pembelajarna sampai pukul 12 siang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, jika dalamperjalanan pembelajaran tatap muka terbatas ada warga sekolah yang terkonfirmasi positif, maka pihak sekolah harus melapor ke Satgas Covid-19 terdekat dan ke pihak dinas. “Untuk diambil langkah strategis menghentikan pembelajaran tatap muka di sekolah itu, kemudian dilakukan penelusuran kontak dan tindakan lainnya,” pungkasnya. (ron)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional