Sekolah Buka di Mataram Dimulai Januari 2021

Lalu Fatwir Uzali. (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram memutuskan belajar tatap muka di sekolah tingkat TK, SD, dan SMP akan dimulai pada 5 Januari 2021 mendatang. Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Lalu Fatwir Uzali menerangkan untuk mempersiapakan hal tersebut simulasi akan segera dilakukan di beberapa sekolah.

“Sebelum Januari itu kita akan persiapkan untuk melakukan simulasi di beberapa sekolah yang memungkinkan. Modelnya akan kita pilih sekolah yang ada di tengah kota dan yang di pinggiran kota,” ujar Fatwir saat memberi keterangan, Rabu, 2 Desember 2020.

Diterangkan, proses tersebut telah diselaraskan dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (juklak/juknis) pembelajaraan tatap muka dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Terutama untuk mengatur mekanisme masuk sekolah bagi peserta didik selama pandemi virus corona (Covid-19) yang masih berlangsung sampai saat ini.

Simulasi akan mulai disiapkan setelah Pilkada Kota Mataram 2020 pada 9 Desember. Digelar selama sepekan, rencana simulasi telah mendapat persetujuan dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S).  “Nanti akan diajukan beberapa sampel. Kita mau lihat, kira-kira apa yang terjadi misalkan ada yang masuk (ke sekolah), ada penumpukan tidak. Kemudian persiapan-persiapan sekolah itu apa yang krusial,” jelas Fatwir.

Dalam juklak/juknis yang diterima pihaknya, ada beberapa aturan yang dinilai perlu menjadi perhatian orangtua peserta didik dan pihak sekolah. Antara lain jam belajar yang telah diatur paling lama 60 menit, tidak ada jam istirahat, tidak ada pelajaran olahraga, serta tidak ada aktivitas ekstrakurikuler.

Menurut Fatwir, simulasi yang dilakukan terutama untuk melihat respon orangtua peserta didik terhadap mekanisme belajar tatap muka selama pandemi. Terutama untuk menghindari terjadinya penumpukan massa saat pengantaran dan penjemputan peserta didik.

Untuk itu, selama simulasi berlangsung pihaknya juga akan melakukan sosialisasi bagi orangtua siswa terkait hal-hal yang perlu dipersiapan untuk mendukung berjalannya proses pembelajaran tatap muka di sekolah. Baik saat peserta didik melakukan persiapan di rumah, saat proses pengantaran ke sekolah, maupun saat penjemputan.

“Yang perlu diperhatikan itu misalnya di sekolah tidak ada kantin atau pedagang yang buka, maka perlu disiapkan sarapan. Bagaimana pengamanan saat di jalan pulang atau saat diantar,” jelas Fatwir. Selain itu, berdasarkan juklak/juknis yang diterima pihaknya orangtua juga disebutnya berhak melarang anaknya untuk menjalankan proses belajar tatap muka jika masih khawatir terhadap penularan virus.

“Jadi untuk orangtua yang tidak mengizinkan anaknya masuk nanti tetap (belajar) melalui daring. Ini memang tidak diwajibkan, tapi diperbolehkan (untuk memilih). Sekolah pun kalau ada yang dengan situasi tertentu ingin menunda melakukan pembelajaran tatap muka itu tidak masalah,” tandasnya. (bay)