Sejumlah Sekolah Sambut Baik Penghapusan UN

Mataram (suarantb.com) – Adanya wacana penghapusan UN oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disambut baik oleh sejumlah sekolah. Sebab penyelenggaraan UN beberapa tahun belakangan ini dirasa sudah tidak cukup relevan untuk masuk ke perguruan tinggi. Demikian juga dengan standarisasi penilaian yang dipukul rata secara nasional dianggap kurang adil bagi daerah-daerah yang memiliki karakter pendidikan yang berbeda.

Salah seorang guru di Kota Mataram, Hj. Toyyibah Bages mengatakan beberapa tahun ini UN dijadikan sebagai sarana pemetaan sekolah-sekolah secara nasional. Namun demikian, tindak lanjut setelah diselenggarakan UN tidak memiliki kejelasan. Sementara untuk masuk ke perguruan tinggi melalui jalur SBMPTN atau SNMPTN tidak mempertimbangkan nilai UN. Sehingga penyelenggaraan UN dianggap kurang memiliki manfaat dan dampak yang ditimbulkan dapat berakibat fatal.

Iklan

“Untuk SNMPTN yang dilihat adalah nilai ulangan, nilai rapor semester satu sampai semester lima. Kalau UN hanya untuk pemetaan, tindak lanjut setelah pemetaan itu apa kan enggak jelas juga. Sehingga dirasa ketidakadilannya kalau nanti sebab UN ini ada siswa yang sampai tidak lulus,” paparnya kepada suarantb.com, Selasa, 29 November 2016.

Kendati demikian, sebagai seorang guru Toyyibah berpendapat harus ada standardisasi yang jelas mengenai kelulusan siswa di sekolah. “Minimal harus ada standar-standar gandanya, minimal daerah. Tidak harus sepenuhnya sekolah,” ujarnya.

Untuk mendukung hal ini, profesionalisme guru pun harus ditingkatkan, sehingga tidak ada lagi kecurangan-kecurangan di dalam instansi pendidikan untuk mendongkrak nilai siswa demi tercapainya standar kelulusan. “Tidak ada lagi muncul di kalangan guru-guru istilah “ngaji” (ngarang biji). Jangan sampai seperti itu,” harapnya.

Seorang pelajar SMA asal Kota Mataram, Rikaz Nufal menganggap penyelenggaraan UN tidak efektif. Menurutnya sangat tidak adil menentukan kelulusan hanya bergantung pada empat hari UN tersebut. Sementara nilai-nilai keseharian di sekolah tidak dipertimbangkan.

Siswa lainnya Davin Audi Susanto mengaku setuju dengan adanya penghapusan UN. Menurutnya materi soal-soal UN yang diujikan tidak bisa dipukul rata pada semua sekolah dengan strategi pembelajaran yang berbeda.

Penghapusan UN juga dinilai memiliki sisi negatif. Seperti disampaikan pelajar lainnya, Ayu Putri Hartono. Ayu mengatakan dengan penyerahan standar kelulusan kepada pihak sekolah secara penuh dapat menimbulkan kecurangan penilaian oleh oknum-oknum sekolah. “Bisa saja nanti ada sekolah yang mendongrak nilai siswa. Itu juga enggak adil, enggak jujur penilaiannya,” ujarnya.

Selain itu dapat terjadi ketidakseragaman standarisasi masing-masing daerah. Adanya UN berdampak pada keseragaman standar pendidikan di Indonesia, sehingga fasilitas sekolah-sekolah pun harus menyesuaikan dengan standar tersebut. Jika kemudian patokan standar nasional dalam bentuk UN tersebut dihapus, menurut Ayu, harus ada bentuk lain yang mendukung keseragaman standardisasi tersebut, sehingga semua siswa di Indonesia mendapatkan perlakuan yang sama dalam pelayanan pendidikan. (rdi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here