Sejumlah Proyek Kritis di Lobar Terancam Molor

Proyek penataan kawasan Senggigi di di depan Hotel Pacific ini termasuk kritis, sehingga rekanannya dipanggil oleh Inspektorat. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Para kontaktor yang tak beres bekerja lantaran progres pekerjaan proyek masuk kategori kritis dipanggil oleh Inspektorat Lombok Barat (Lobar). Pemanggilan para kontraktor ini untuk diingatkan agar mempercepat pengerjaan proyek sesuai dengan kesanggupan mereka. Mengingat waktu sudah mepet, ada beberapa proyek yang kritis, karena mengalami deviasi negatif hingga 9 persen. Kontraktor harus mengejar target hingga 40 persen selama satu bulan lebih waktu yang tersisa, sehingga proyek ini pun terancam molor.

Inspektur pada Inspektorat Lobar H. Ilham dikonfirmasi Minggu, 22 November 2020 mengatakan, pihaknya sudah memanggil enam kontraktor yang progres pekerjaannya terdapat deviasi negatif yang sangat besar. Para kontraktor diminta membuat surat pernyataan kesanggupan dan rencana aksi untuk percepatan pembangunan proyek. Surat pernyataan kesanggupan bermaterai ini untuk mengetahui komitmen dan langkah mereka mempercepat pengerjaan proyek.

“Enam kontraktor kami panggil yang deviasi negatifnya besar. mereka membuat surat pernyataan kesanggupan dan rencana aksi. Kami minta semua OPD terkait, PPK, pengawas melakukan evaluasi sesuai dengan komitmen dan rencana aksi tertulis para kontraktor,” jelas dia.

Mantan Asisten I Setda Lobar ini menerangkan, enam rekanan yang dipanggil di antaranya kontraktor proyek Puskesmas Dasan Tapen, semua proyek pekerjaan Penataan Kawasan Senggigi seperti Alberto, Pasific.

Kalau tidak melaksanakan surat kesanggupan dan rencana aksi ini, jelas dia itu akan dijadikan bahan evaluasi bagi kontaktor terkait. Karena mereka sendiri sudah membuat strategi untuk percepatan pengerjaan apa yang dilakukan pekan ini, pekan depan dan selanjutnya.

Sekretaris Dinas Kesehatan Lobar, Arif Suryawirawan, S.Si.,Apt., MPH., mengakui semua rekanan yang deviasi pekerjaannya negatif sudah dipanggil oleh Inspektorat. “Semua rekanan yang deviasi negatif sudah dipanggil oleh Inspektorat, hal ini dilakukan agar jangan sampai Pemda dianggap lalai,” jelas dia akhir pekan kemarin.

Termasuk, kata dia, kontraktor proyek Puskesmas Dasan Tapen. Diakui progres proyek ini baru mencapai 60 persen. Terdapat deviasi negatif menggapai 9 persen. “Kontraktor pun beberapa kali dipanggil oleh Inspektorat untuk diminta melakukan percepatan,” tegas dia.

Kontaktor pun sudah ditegur dan diminta membuat surat pernyataan sanggup menyelesaikan pekerjaan. Kemudian rekanan juga diminta membuat rencana aksi terkait langkah apa yang akan dilakukan sampai proyek selesai dikerjakan. Dan progres dari pekerjaan proyek ini pun tetap dipantau oleh Inspektorat. (her)