Sejumlah Infrastruktur Air Rusak akibat Banjir Bandang

Hendra Ahyadi. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I menginventarisir sejumlah infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang terjadi di Bima dan Dompu, awal April 2021 ini. Kerusakan tersebut diantaranya, Daerah Aliran Sungai (DAS) Pelaparado dan saluran irigasi rusak sedang. Total areal padi yang terdampak banjir ± 2.406 Ha dari keseluruhan luas total areal daerah irigasi Pelaparado 3.815 Ha.

Bendung Parado rusak ringan, Bendung Ncangkai rusak berat, Bendung Ompu Java rusak berat, Bendung Ompu Ridu rusak sedang, Bendung Pelaria lantai sayap bagian hilir rusak berat, Bendungan Woro rusak sedang. “Bendungan Woro pelimpahnya mengalami hambatan, itu kita tangani dulu, kemudian ada bagian yang rusak/tergerus,” kata Kepala BWS Nusa Tenggara I, Dr. Hendra Ahyadi.

Iklan

Sampai saat ini, BWS Nusa Tenggara I telah mengerahkan timnya untuk menginventarisir infrastruktur-infrastruktur SDA yang mengalami kerusakan akibat bencana banjir. Sejumlah jembatan penghubung juga mengalami kerusakan. Sehingga belum memungkinkan dikerahkan alat berat unntuk menormalisasi infrastruktur SDA yang terdampak.

Dr. Hendra juga menyebut soal DAS Pelaparado yang harus menjadi perhatian. Banjir yang terjadi kemarin tidak memungkinkan bagi DAS ini menampung debit air. Akibat terjadinya penyempitan disisi DAS Pelaparado. Penyempitan akibat penggunaan sisi DAS untuk pembangunan tempat tinggal. Ancaman banjir bandang tetap terjadi.

Apalagi curah hujan kemarin belum puncak siklusnya. Untuk melakukan pengosongan DAS Pelaparado, tentu sangat berat. Skenario yang dipersiapkan dengan pemerintah daerah setempat adalah kemungkinan membagi aliran air menjadi dua bagian agar debit air tidak sepenuhnya mengalir ke DAS Pelaparado. “Kita sedang rancang dengan pemerintah daerah. untuk jangka menengah dan jangka panjangnya, air yang mengalir dari DAS Pelaparado harus dibagi. Dibuatkan aliran lain. Supaya tidak terjadi luapan ketika debit air tinggi,” ujarnya.

Dr. Hendra Ahyadi menambahkan, bencana banjir bandang di Bima dan Dompu kemarin mengingatkan kepada seluruh lapisan masyarakat dan stakeholders untuk mengambil hikmah. Agar penerbitan izin untuk penggunaan hutan di hulu harus dihentikan. Jika tidak, potensi bencana banjir akan tetap mengancam. “Ini menjadi peringatan bagi kita untuk tidak terlalu mudah menerbitkan izin pembabatan hutan,” demikian Dr. Hendra. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional