Sejumlah Hotel dan Restoran di NTB Memilih Tutup Sementara

H. L. Moh. Faozal, S.Sos, M.Si. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dampak penyebaran virus Corona (Covid-19) di sektor pariwisata cukup besar. Dinas Pariwisata (Dispar) NTB mencatat sedikitnya 65 perusahaan (hotel dan restoran) bahkan terpaksa tutup sementara untuk menanggulangi dampak yang dirasakan.

Kepala Dispar NTB, H. L. Moh. Faozal, S.Sos, M.Si menerangkan, penutupan terjadi hampir di semua lini industri pariwisata. Khususnya pada hotel dan restoran, sebagai langkah preventif menghadapi penyebaran Covid-19.

Iklan

‘’Dari teman-teman hotel ada yang melakukan penutupan sementara sampai waktu belum ditentukan,’’ ujar Faozal saat dikonfirmasi, Jumat, 27 Maret 2020 ditemui seusai pertemuan dengan pelaku industri pariwisata di Kantor Dispar NTB. Menurutnya, penutupan usaha ditujukan untuk mengantisipasi kondisi ke depan pascapenyebaran Covid-19.

Diterangkan Faozal, kondisi saat ini jauh lebih parah jika dibandingkan dengan dampak gempa 2018 lalu. ‘’Yang bisa kita lakukan sekarang untuk teman-teman industri pariwisata, mereka ada akses ke OJK, BPJS Ketenagakerjaan, Dinas Ketenagakerjaan dan juga ke perbankan,’’ ujarnya.

Beberapa upaya antisipasi dampak juga dilakukan. Dicontohkan Faozal seperti terbitnya peraturan OJK untuk memberikan stimulus bagi industri perbankan yang berlaku 13 Maret lalu sampai dengan 31 Maret mendatang.

Selain itu, diberikan juga insentif pajak bagi hotel dan restoran se NTB. Serta fleksibilitas pembayaran BPJS Ketenagakerjaan selama 6 bulan yang dimulai April – September mendatang, termasuk pencairan klaim yang diajukan oleh seluruh karyawan usaha pariwisata yang terdaftar.

‘’Diharapkan seperti itu, tapi kita menunggu dulu kebijakan dari pemerintah pusat seperti apa dari usulan dan harapan teman-teman industri pariwisata,’’ ujar Faozal.

Hadir dalam pertemuan tersebut Perwakilan Indonesian Chef Asscociation (ICA) NTB, Lalu Darmawan, menerangkan efisiensi banyak dilakukan oleh pelaku industri pariwisata. Bukan hanya penutupan, namun pengurangan jumlah pekerja oleh hotel dan restoran yang masih memilih buka.

Walaupun begitu, situasi tersebut diakui cukup sulit mengingat jumlah tamu atau pengunjung sangat minim. Mengikuti arahan dari pemerintah untuk melakukan social distancing atau pembatasan sosial demi mencegah menyebar-luasnya Covid-19.

‘’Kalau pun kita harus tetap beroperasional restoran, tetap saja tidak ada pembeli. Apalagi semua bahan harganya naik, bagaimana usaha kita mau jalan,’’ujar Darmawan. Berdasarkan catatan ICA NTB, sampai saat ini setidaknya ada 65 hotel dan restoran anggota ICA yang memilih menutup usaha terdampak penyebaran Covid-19 di NTB. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional