Sejumlah Guru Resah Akibat Aksi Kekerasan

Mataram (suarantb.com) – Banyaknya isu-isu pendidikan yang beredar belakangan ini menimbulkan keresahan di sekolah-sekolah, terutama bagi para guru. Mulai dari isu akan dicabutnya program sertifikasi guru, wacana pemberlakuan sekolah sehari penuh, hingga aksi kekerasan orang tua siswa terhadap guru seolah menjadi momok bagi guru.

Isu-isu yang banyak beredar di media sosial tersebut dinilai paling merugikan guru. Terutama mengenai aksi kekerasan orang tua siswa terhadap guru. Profesi guru seolah menjadi profesi paling rentan aksi kriminal. Dan wibawa menjadi seorang guru pun dijatuhkan.

Iklan

Seorang guru MTs Swasta, Evi Kurniawati Anwar mengharapkan agar profesi guru lebih dihargai, mengingat jasa dan kontribusi seorang guru sangat besar terhadap kemajuan bangsa. “Setidaknya jika usaha dan jasa seorang guru tidak dihargai dengan pendapatan yang layak maka hargailah dengan tidak melakukan kekerasan terhadap guru, tidak membuat keresahan terhadap guru, tidak membuat guru was-was dengan adanya kejadian sperti ini,” ungkapnya kepada suarantb.com, Senin, 15 Agustus 2016.

Menurutnya, sekalipun benar bahwa guru melakukan kesalahan, namun tidak dibenarkan melakukan aksi main hakim sendiri oleh masyarakat terhadap guru tersebut. Karena Indonesia merupakan negara hukum yang sepatutnya penyelesaian masalah apa pun harus melalui jalur hukum.

Ia pun mengatakan bahwa alangkah baiknya jika penyimpangan-penyimpangan kecil dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan.“Jika ada masalah seharusnya dibicarakan baik-baik. Jika merasa perilaku guru tidak sesuai atau tidak sewajarnya, kan di dalam skolah guru ada atasannya, ada kepala sekolah, ada ketua komite bicarakanlah bersama cari titik temu bersama. Tapi jika guru sudah kelewat batas, seperti kekerasan seksual, pemerkosan bahkan pembunuhan, barulah menempuh jalur hukum, negara kita kan negara hukum, bukan main hakim sendiri,” paparnya jelas.

Guru MTs Negeri di Kota Mataram, Hardiyanto pun menyampaikan hal yang sama. Aksi kekerasan terhadap guru dalam permasalahan apa pun tidak dapat dibenarkan. Ia mengatakan bahwa hal tersebut penting untuk menjadi perhatian pemerintah. “Perlu payung hukum yang jelas untuk menjamin dan melindungi mereka (para guru),” ujarnya.

Ia pun menerangkan bahwa aksi penganiayaan terhadap guru dalam bentuk apa pun telah dilarang dalam agama. “Kalau sampai terjadi seperti itu sama saja tidak beragama. Kemana hati nuraninya?” tukasnya tajam.

Hal-hal yang menimbulkan keresahan guru ini dapat berdampak pada minimnya peminat profesi ini selanjutnya. Mahasiswa FKIP Universitas Mataram, Fibriwati Saomi mengatakan bahwa dengan begitu banyak ancaman yang terjadi belakangan ini, mahasiswa yang mulanya bercita-cita menjadi guru dapat beralih niat. Tentu saja karena tidak ada hukum yang jelas untuk perlindungan guru di Indonesia, ditambah dengan banyaknya undang-undang yang terlalu longgar bagi anak, malah dikhawatirkan menjadi generasi yang tidak taat aturan.

“Pemerintah terlalu memanjakan siswa, peraturan dan undang-undang itu rasanya terlalu longgar, sehingga siswa menjadi ngelunjak, tidak disiplin dan semena-mena terhadap guru. Karena dia (siswa) punya undang-undang yang mendukungnya,” ujar Mahasiswa Program Studi PPKn ini.

Ia mengatakan jika kondisi pendidikan di Indonesia terus-menerus memojokkan guru, sementara masalah kesejahteraan guru hingga saat ini belum teratasi, maka di masa yang akan datang, tidak ada mahasiswa keguruan yang akan mau melanjutkan profesi sebagai guru.

“Sekarang saja sudah banyak mahasiswa keguruan yang menjadi pegawai kantoran, pegawai bank atau pengusaha kecil-kecilan,” pungkasnya. (rdi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here