Sejumlah Desa Rawan Pangan

Fathul Gani (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) menemukan ada sejumlah desa rawan pangan di NTB. Desa yang sering menjadi langganan kekeringan, merupakan daerah yang rawan pangan. Sementara, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) mencatat 554 hektare tanaman padi terdampak kekeringan di tiga kabupaten. Dan yang disyukuri, tanaman padi yang terdampak kekeringan tersebut telah dapat dipulihkan.

Kepala DKP NTB, Drs. Fathul Gani, M. Si yang dikonfirmasi Suara NTB, Senin, 31 Agustus 2020 kemarin menjelaskan, jika berbicara desa rawan pangan. Wilayah yang menjadi spot-spot kekeringan, rawan pangan.

Iklan

‘’Seperti Lombok Timur bagian  Selatan, Lombok Barat bagian selatan, Lombok Tengah wilayah selatan. Kemudian di Pulau Sumbawa, pada daerah yang sering mengalami kekeringan,’’ ujar Fathul.

Meskipun ada puluhan desa yang rawan pangan. Fathul mengatakan, masyarakat setempat tidak sampai mengalami kelaparan. Karena ada intervensi berupa program cadangan pangan masyarakat yang dilakukan pemerintah. Program cadangan pangan masyarakat yang dilakukan DKP difokuskan ke desa-desa yang mempunyai angka stunting cukup tinggi.

Program lainnyaa yang dilakukan dengan mengembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Masyarakat diberikan bantuan bibit tanaman yang cepat panen seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

‘’Insya Allah, (masyarakat) ndak sampai kelaparan. Karena banyak intervensi dari Pemerintah Pusat, provinsi, kabupaten/kota dan Pemerintah Desa. Kita terus monitor perkembangan di lapangan dengan instansi terkait,’’ ujarnya.

Fathul menambahkan, pemerintah juga punya cadangan pangan pemerintah mulai dari pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga desa. Di desa, ada lumbung pangan. Tahun 2020, dibangun 15 lumbung pangan di NTB. Pada 2021, akan kembali dibangun lumbung pangan lewat anggaran APBN.

Lumbung pangan yang berada di desa,  berbasis kelompok. Dukungan anggarannya berasal dari APBN dan APBN. Diharapkan ke depan, Pemerintah Desa juga mengintervensi lewat dana desa. Terutama, kelompok masyarakat kurang mampu yang berada di desa tersebut.

“Mereka menghimpun diri menjadi kelompok. Itu kita intervensi pendanaanya,” jelasnya.

Berdasarkan data DKP, jumlah lumbung pangan di NTB lebih dari 200. Namun, sekitar 130 lumbung pangan yang masih aktif. “Harapan kita, semua desa/kelurahan punya lumbung pangan. Sehingga pada musim paceklik, mereka (kelompok masyarakat) bisa memanfaatkan cadangan pangan yang ada di tempat mereka,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Distanbun NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M. Si menyebutkan, berdasarkan laporan yang diterima 15 Juli lalu, luas tanaman padi yang terdampak kekeringan sebanyak 554 hektare. Tersebar di Kabupaten Bima 415 hektare, Lombok Barat 119 hektare dan Lombok Tengah 20 hektare.

Meskipun terdampak kekeringan, Husnul mengatakan ratusan hektare tanaman padi tersebut tidak ada yang puso alias dapat dipulihkan. “Ada ratusan hektare (terdampak kekeringan). Tapi ndak ada yang mengalami puso. Itu sudah ‘sembuh’,” ucapnya.

Husnul mengatakan, kekeringan tak akan berpengaruh terhadap pencapaian target produksi padi dan jagung. Tahun ini, produksi padi ditargetkan sebesar 2,6 juta ton gabah kering giling. Begitu juga jagung, ditargetkan sebanyak 2,6 juta ton pipilan kering.

Dari target tersebut, capaian produksi padi sudah mencapai 2,1 juta ton. Sedangkan jagung sudah mencapai 1,8 juta ton. “Nanti Desember kita ketahui capaiannya secara keseluruhan,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, bencana kekeringan yang melanda NTB semakin meluas. Masyarakat terdampak kekeringan bertambah sebanyak 13.126 jiwa, dari 705.691 jiwa pada 18 Agustus, menjadi 718.817 jiwa pada 26 Agustus lalu.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, bencana kekeringan terus meluas di 9 kabupaten/kota. Semula, 76 kecamatan yang dilanda kekeringan, namun sekarang bertambah menjadi 76 kecamatan.

Begitu juga dengan jumlah desa yang dilanda kekeringan. Semula sebanyak 341 desa, sekarang menjadi 353 desa. Sehingga masyarakat terdampak kekeringan juga bertambah. Semula, masyarakat terdampak kekeringan di NTB sebanyak 199.294 KK atau 705.691 jiwa. Sekarang, jumlah masyarakat bertambah menjadi 203.879 KK atau 718.817 jiwa.

Sembilan kabupaten/kota sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan di NTB. Yaitu, Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Kota Bima dan Bima. BMKG memprediksi puncak kekeringan di NTB terjadi Juli – September mendatang. (nas)