Sejumlah Apotek Kehabisan Stok Masker

Petugas dari Bidang Pengawasan dan Tata Niaga Dinas Perdagangan Provinsi NTB saat sidak di beberapa apotek penyedia masker di Kota Mataram, kemarin. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Stok masker di pasaran tiba-tiba saja menghilang. Masker menjadi salah satu yang paling banyak diburu masyarakat, setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya WNI yang terpapar virus Corona. Menyikapi hal ini,  Dinas Perdagangan Provinsi NTB melalui Bidang Pengawasan dan Tata Niaga langsung melakukan cek lapangan.

Sidak (inspeksi mendadak) yang dilakukan Dinas Perdagangan NTB merupakan langkah antisipasi, kemungkinan adanya penimbunan (aksi spekulan). Berdasarkan pantauan di beberapa apotek di Kota Mataram, tidak  ditemukan adanya penjualan masker. Rata-rata apotek stok maskernya kosong.

Iklan

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M. Si melalui Kepala Bidang Pengawasan dan Tata Niaga turun ke Apotek Kimia Farma di Jalan Pejanggik Mataram.  Merebaknya informasi virus Corona di sejumlah daerah di Indonesia menyebabkan permintaan masker di NTB tinggi.

Ni Made Maherni karyawan Apotek Kimia Farma mengatakan, sejak 2 pekan, pasokan masker dari distributor sangat terbatas. Harganya pun mengalami kenaikan antara 3 hingga 5 kali lipat dari harga normal.

‘’Harganya naik beberapa kali lipat. Stoknya juga sudah tidak ada sejak 2 minggu terakhir,’’ katanya.

Karena tingginya permintaan dan terbatasnya stok, penjualan masker juga dibatasi hanya 10 pcs saja untuk setiap pembeli saat stok masih tersedia. Lebih dari 10 biji, tidak diperkenankan agar konsumen mendapat jatah rata.

I Komang Artikayasa, Apoteker menambahkan,  kenaikan harga saat ini lebih disebabkan karena tingginya harga masker di tingkat distributor yang ada di Pulau Jawa. Pada harga normal, satu boks masker di tingkat distributor dijual antara Rp 40.000 hingga Rp45.000. Namun saat ini, apotek membeli masker dengan harga yang jauh lebih mahal yakni Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per boks.

‘’Harganya itu tidak masuk akal, bisa sampai 100 persen bahkan lebih kami beli per boksnya. Kalau dulu tidak sampai Rp50 ribu harganya. Kami hanya cari margin keuntungan maksimal 25 persen dari harga distributor,’’ ujar Komang.

Di apotek lainnya, Apotek Catur Warga di Jalan Catur Warga Mataram, dipampang tulisan pemberitahuan stok masker kosong. Wanggo memberikan keterangan, stoknya kosong dari distributor sejak Januari lalu.

Pemberitahuan tertulis yang dipampang, agar konsumen yang datang ke apoteknya memperoleh informasi langsung. Kekosongan stok murni karena tidak ada distribusi dari distributor. Harganya bahkan tidak wajar, tapi bukan harga didistributor.

‘’Dari yang dijuai secara online, harganya tidak wajar. Dan kita tidak mau pesan. Kemahalan. Harganya tidak karuan. Ada yang Rp250.000 satu kotak. Dari sebelumnya hanya Rp50.000 se kotak,’’ sebutnya.

Melihat fakta lapangan ini, Ir. Haryono mengatakan langsung berkoordinasi dengan kepala dinas yang tengah mengikuti Rakornas agar disampaikan langsung ke Kementerian Perdagangan.

Beberapa distributor masker di Kota Mataram juga melaporkan tidak memiliki stok masker. Ia juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Mataram. Sementara ini, masker hanya tersedia untuk kebutuhan di Puskesmas dan rumah sakit hingga enam bulan ke depan. Selebihnya yang dikomersilkan, stok tak tersedia.

Dinas Perdagangan juga tengah menelusuri apakah ada kemungkinan oknum yang tidak bertanggung jawab bermain di balik limitnya stok masker di NTB. Hal ini juga menjadi rekomendasi Dinas Perdagangan kepada Kementerian Perdagangan agar persoalan ini segera ditindaklanjuti. Terutama memastikan distributor yang ada di Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan masker masyarakat di daerah.(bul)