Sehari, Pengusaha Lotim Kirim 15 Ton Cabai ke Jakarta

Petani di Lotim sedang memanen cabainya. Harga cabai di pasaran cukup mahal, sehingga pemerintah daerah mendatangkan cabai dari luar daerah. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Kebijakan pemerintah yang mendatangkan cabai dari Pulau Jawa ini berbanding terbalik dengan kegiatan usaha yang dijalankan pengusaha cabai di Lombok Timur (Lotim). Cabai dari petani-petani di Lotim diklaim setiap hari dikirim ke Jakarta.

Subhan, pengusaha cabai asal Suralaga, mengaku jumlah cabai yang dikirim ke luar daerah antara kisaran 15 ton per hari. Pengiriman biasanya untuk memenuhi pasar pasar yang ada di Jakarta, khususnya Pasar Keramat Jati Jakarta menggunakan truk.

Iklan

Sebelumnya, pengusaha cabai di Lotim mengirim cabai lewat kargo. Akan tetapi karena terlalu mahal biaya kargo pesawat, sehingga pengiriman dilakukan via perjalanan darat.

“Sebenarnya untuk kebutuhan di NTB aja produsi cabai rawit merah masih lebih, buktinya rawit kita di Lotim masih kirim ke Jakarta itu,” terangnya pada Suara NTB, Rabu, 5 Februari 2020.

Diakunya, ada beberapa jenis cabai yang kurang diminati oleh warga Lotim. Seperti jenis baskara yang dianggap kurang diminati ibu-ibu rumah tangga, karena dianggap kurang pas dijadikan sambal. Untuk itu, pihaknya mempersilakan masyarakat di luar Lotim yang ingin membeli cabai bisa membeli langsung ke Lotim.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Lotim, H. Mohammad Abadi mengatakan melonjaknya harga cabai ini bagi Lotim dinilai tidaklah terlalu berpengaruh besar. Harga melonjak karena lokasi penanaman ini mulai berkurang. Di mana, banyak yang sudah mulai menanam padi d3 areal-areal yang sebelumnya menjadi lokasi tanam cabai.

Sebelumnya luas areal tanam cabai ini sekitar 300 hektar. Luas ini berkurang terus seiring dengan masuknya musim tanam. Meski demikian, ujarnya, di sejumlah tempat masih ada yang tanam cabai. ‘’Rencana pemerintah provinsi mendatangkan cabai dari luar daerah ini diakui semata untuk menstabilkan harga,’’ ujarnya.

Harga yang berlaku saat ini, menurut keyakinan H. Abadi, belum terlalu memberatkan. Dinilai belum ada teriakan juga dari masyarakat terkait adanya perubahan harga. Saat ini katanya, petani sedang menikmati harga. Harga ini pun tidaklah hanya pada musim tertentu saja.

Untuk mengatasi masalah keterbatasan stok cabai setiap musimnya, ke depan kata Kadis Pertanian ini perlu ada pembagian zonasi tanam. Lotim bisa dibagi tiga, zona timur, selatan dan tengah. Zonasi ini dimaksudkan agar distribusi hasil produksi cabai ini bisa berimbang dan stabil. Tidak mahal di satu titik. Melalui zonasi, diharapkan bisa lebih cepat menstabilkan harga. Zonasi ini juga pada komoditi lainnya. (rus)