Sebut Penghina TGB Fiktif, Lima Akun Medsos Dilaporkan ke Polda NTB

Mataram (Suara NTB) – Sedikitnya lima akun media sosial (medsos) dilaporkan ke Unit Cyber Crime Subdit II Ditreskrimus Polda NTB dalam kasus dugaan penghinaan Gubernur NTB TGH. Zainul Majdi, MA. Akun tersebut dianggap menyebarkan informasi tidak benar, karena menyebut  SHS, terduga penghina Gubernur itu sebagai sosok fiktif.

Iklan
Kasubdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda NTB, AKBP Darsono Setyo Adjie

Pelapor dari Tim Pembela Gerakan Pribumi Berdaulat menyodorkan dokumen informasi itu ke Subdit II Unit Cyber Crime Polda NTB, Rabu, 25 April 2017. Sementara lima akun yang dilaporkan diantaranya akun facebook Niluh Djelan9tik,  akun twitter Cyril Raoul Hakim, akun twitter Surya Tjia, akun facebook Suparman Bong dan akun facebook Tazran Tanmizi.

Pelapor dalam kasus ini adalah mereka yang sebelumnya mengadukan kasus penghinaan atas etnis Pribumi ke Ditreskrimum Polda NTB yang diduga dilakukan SHS.

Menurut mereka, terlapor diduga melanggar Pasal 27 ayat 3 dan pasal 35 undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Salah seorang pelapor, Abdul Hadi Muchlis,SH.,MH menjelaskan, keberatan atas ciutan pada twitter dan  postingan pada facebook para terlapor tersebut, karena menyebut SHS adalah sosok fiktif.

“Ada juga akun twitter yang kami laporkan itu mengatakan Steven tidak pernah ke Singapura. Jadi dua hal yang kami laporkan hari ini, tentang Steven yang fiktif dan peristiwanya yang fiktif,” ujar Hadi Muchlis.

Keberatan lainnya, karena dengan munculnya postingan itu ada asumsi  bahwa Tuan Guru Bajang (TGB) membuat cerita fiktif, bahkan disebut sebut ada tendensi pada kepentingan Pilkada DKI Jakarta. Akun Niluh Djelantik, Suparman Bong dan Tazran Tanmizi disebutnya menuliskan status menuduh SHS merupakan tokoh fiktif yang sengaja “diciptakan” untuk memperkeruh suasana menjelang Pilgub DKI Jakarta.

Saat menerima dokumen laporan dari Tim Pembela Pribumi Berdaulat, Rabu (25/4/2017).

 “Dengan mengatakan orangnya maupun peristiwanya yang fiktif, berarti TGB yang kami anggap ulama dan umaroh dituduh TGB berbohong. Padahal pada sholat Jumat (15/4) beliau sendiri membenarkan kejadian yang menimpanya dan keluarganya usai sholat Jumat di Islamic Center,” pungkasnya.

Sementara anggota tim Pembela Pribumi Berdaulat,  Lalu Saepudin,SH.,MH  menambahkan, akun medsos lima terlapor tersebut secara langsung merugikan kepentingan hukumnya sebagai pelapor. Karena sebelumnya mereka menjadikan objek hukum pada kasus itu adalah SHS sebagai pelaku penghinaan dan sudah dilaporkan ke Ditreskrimum Polda NTB dan Polda Metro Jaya.

Sejumlah bukti bahwa SHS itu bukan tokoh fiktif diberikan ke Ditreskrimum. Ada bukti juga manifest penumpang atasnama SHS dari  Singapura ke Jakarta.

“Padahal ada bukti-bukti pernyataan permohonan maaf Steven di Halaman Republika dan ada iklannya di Kompas. Lalu ada pernyataan antara Pak Gubernur, istrinya dengan Steven dan keluarganya, ada juga manifest penerbangannya, ada passpornya hasil penyidik Polda Metro,” paparnya.

Kasubdit II Unit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda NTB, AKBP Darsono Setyo Adjie menerima langsung laporan tersebut. Darsono  mengatakan, akan memproses laporan yang diserahkan itu sesuai mekanisme hukum. Namun demikian, dia meminta dukungan bukti tambahan. “Kami mohon didukung nanti dengan alat bukti khususnya dokumen elektronik. Karena memang dalam Undang-undang ITE, dokumen elektronik yang terpenting untuk proses penyelidikan dan proses penyidikan,” jelasnya. (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here