Sebuah Gambar yang Menakjubkan

(Gambar ilustrasi oleh jplenio dari Pixabay)

Oleh : Mohammad Azhar*

“BAYANGKAN jika kamu tiba-tiba menyadari bahwa orang-orang, tempat dan momen-momen yang berarti bagimu, bukan hilang atau mati. Melainkan tidak pernah ada. Kengerian macam apa itu?”

Iklan

Itu adalah kalimat dr. Rosen, yang diperankan oleh Christopher Plummer, saat menjelaskan teror yang dialami John Nash dalam film ‘A Beautiful Mind’.

Film tahun 2001 ini mengisahkan kehidupan John Forbes Nash, Jr. Seorang ilmuwan jenius yang meraih Nobel di bidang Ekonomi pada 1994. Film ini terinspirasi dari biografi berjudul sama, yang ditulis oleh Sylvia Nasar.

Di balik kecemerlangan otaknya, John Nash yang diperankan Russell Crowe, adalah pengidap schizophrenia. Penyakit yang membuat ia selalu dibayangi sosok-sosok imajiner.

Nash sempat terperangkap cukup lama dalam dunia imajinernya. Sepanjang masa kuliahnya, ia memiliki teman sekamar, yang ternyata merupakan sosok imajiner, Charles Herman. Ada pula gadis kecil, keponakan Herman, Marcee dan William Parcher, seorang agen pemerintah yang merekrutnya untuk memecahkan kode-kode rahasia dari Russia.

Tapi akhirnya Nash menyadari bahwa semua itu hanya halusinasinya sendiri. Ketiganya tidak nyata. Tidak pernah ada. Nash dirawat di rumah sakit jiwa. Lalu penderitaannya semakin buruk.

Seperti judulnya, A Beautiful Mind memang berkisah tentang pikiran seseorang. Dalam film, seseorang itu John Nash. Tapi dalam kenyataan, orang itu bisa siapa saja.

Pikiran manusia adalah ruang yang kompleks. Ada begitu banyak hal yang tak bisa dialami secara fisik, tapi dimungkinkan dalam pikiran. Ia bisa menjadi ruang yang batas-batasnya melentur bebas.

Tapi pikiran juga bisa menjadi penjara yang begitu menghimpit. Ia bisa membentuk relung-relung kenyataan, tempat kewarasan manusia terperangkap di dalamnya.

Kisah John Nash juga kembali mengingatkan saya mengenai betapa mudahnya manusia teraduk-aduk dalam kompleksitas pikirannya sendiri.

Pikiran bisa membuat sesuatu yang tak pernah ada, menjadi begitu nyata. Begitu menghimpit dan menyiksa. Nash tidak pernah lepas dari tiga sosok imajiner yang terlanjur hidup dalam pikirannya. Tapi akhirnya ia sanggup mengabaikan mereka.

Dalam derajat yang dapat ditoleransi, manusia pada umumnya mungkin sering menemukan situasi yang serupa dengan Nash.

Seorang youtuber yang takut kehilangan subscribers-nya, seorang wartawan yang cemas seandainya luput memberitakan kejadian penting, atau seorang presiden yang khawatir elektabilitasnya anjlok.

Pada suatu bagian di film itu, John Nash yang sempat pulih, kembali hanyut dalam dunia dan tokoh-tokoh rekaan di pikirannya. Ia bahkan meninggalkan bayinya sendiri, nyaris tenggelam dalam bak mandi. Nash mengira ada rekannya –sosok rekaan– yang sedang menjaga sang bayi di bak mandi.

Tapi, Nash beruntung bisa pulih lagi. Dan ketika jiwanya sudah lebih stabil, Nash akhirnya menemukan cara untuk menyikapi pikirannya sendiri.

Ia tidak memeranginya. Ia berdamai dengan tokoh-tokoh rekaannya. Nash menyampaikan dengan baik-baik, bahwa ia telah sampai pada titik dimana ia tak akan lagi berbicara dengan mereka.

Adegan ‘perpisahan’ Nash dan tokoh-tokoh rekaannya ini digambarkan dengan cukup menyentuh oleh sutradara Ron Howard.

Kita juga mungkin akan seperti itu.

Hidup seringkali mengecoh kita. Membuat kita merasa harus selalu unggul atas semua hal yang menjadi ancaman. Setiap kali ancaman dilenyapkan, kita merasa menang.

Padahal, setiap kemenangan memiliki harganya sendiri. Orang bisa saja melakukan hal-hal buruk untuk merepresi rasa takutnya. Seorang diktator melakukan penyiksaan, pembantaian atau hal-hal buruk lainnya untuk melenyapkan rasa takut kehilangan kekuasaan. Seorang perempuan melakukan operasi wajah yang berisiko, demi melawan penuaan.

Untuk setiap keberhasilan, mungkin akan ada perasaan menang. Tapi sesungguhnya, kita hanya sedang menunggu lahirnya pertempuran baru.

Ketika teknologi seluler dan internet ditemukan, manusia merasa berhasil meringkas jarak. Namun, ponsel dan internet justru menciptakan jarak dalam bentuk baru. Jarak imajiner. Jarak yang timbul saat dua manusia atau lebih, ada di tempat yang sama, namun tak terkoneksi secara emosional. Sebab, pikiran mereka tercurah pada ponselnya.

Pada akhirnya, kita tidak benar-benar meringkas jarak. Tapi membuatnya bermutasi ke wujud yang lain.

Wujud yang lebih mencemaskan telah muncul di Pilpres 2019 lalu. Ponsel dan internet, membuat politik aliran yang memicu permusuhan, lebih mudah dimainkan.

Mungkin seperti itulah algoritma kehidupan. Manusia menghadapi masalah, lalu manusia menemukan solusinya. Tapi masalah itu, kemudian bermutasi. Melahirkan problematika baru. Lalu manusia kembali harus berjibaku mencari solusinya.

Siklus ini mungkin telah berlangsung sepanjang sejarah. Dan mengingatnya, akan mengantarkan kita pada titik yang dialami Nash. Titik dimana tiba saatnya kita berdamai dengan hal-hal buruk yang tak terhindarkan.

Kejadian-kejadian tak terhindarkan, memaksa kita untuk menyadari tempat kita di alam semesta. Dimana manusia hanyalah satu dari sekian banyak keping-keping penyusunnya. Semesta, seperti halnya pikiran manusia, adalah tempat hal baik dan hal buruk terus berkecamuk. Saling memengaruhi, saling menggerakkan. Silih berganti.

Satu keping mungkin terlihat buruk. Dan untuk waktu yang cukup lama, kesadaran kita terperangkap. Pikiran terkunci. Pandangan kita tak bisa teralihkan dari keping buruk itu.

Tapi akan tiba saatnya kita dipaksa mundur dan mulai sanggup memandang potret yang lebih luas. Lalu kita tersadar, ia adalah gambar yang indah dan menakjubkan. (*)

* Mohammad Azhar (Aan) adalah wartawan Suara NTB dan suarantb.com. Tinggal di Sandik, Lombok Barat.

Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi suarantb.com.

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional