Sebanyak 214 Desa di NTB Berstatus Rawan Pangan

H. Fathul Gani (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Setidaknya 214 desa di NTB tercatat masuk dalam kategori rawan pangan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB, Drs.H. Fathul Gani, M.Si menerangkan hal tersebut disebabkan musim kering yang terjadi di beberapa daerah, sehingga ketersediaan komoditi pangan perlu segera diantisipasi.

“Kami memastikan desa-desa yang masuk dalam ketegori rawan pangan terus di intervensi dengan bantuan,” ujar Fathul saat dikonfirmasi, Senin, 14 September 2020.

Iklan

Meskipun beberapa komponen pangan mengalami kenaik harga seperti cabai keriting, saat ini ketersediaan 11 komoditas pangan strategis seperti beras, jagung, daging sapi, dan telur ayam cenderung stabil.

Diterangkan, desa-desa yang masuk dalam katagori rawan pangan tersebut berada di Pulau Sumbawa, Lombok Timur (Lotim) bagian setalan dan bagian utara, serta daerah-daerah pesisir pantai. ‘’Kalau kita melihat tekstur geografis di Pulau Sumbawa yang memang cukup banyak, terutama di Kabupaten Bima. Sedangkan di Lotim saja hampir 90-an desa,’’ sebutnya.

Dengan kemarau yang terjadi saat ini, ketersediaan air untuk lahan pertanian disebutnya mengalami penurunan. Termasuk untuk beberapa lokasi Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di wilayah tersebut.

‘’Itu yang terus kita monitor bersama dengan teman-teman Dinas Ketahanan Pangan kabupaten/kota untuk mencarikan solusi supaya KRPL itu tidak ikut kering,’’ ujar Fathul. Intervensi yang dilakukan pihaknya antara lain menyalurkan bantuan kepada daerah-daerah rawan pangan tersebut. Baik yang diakomodasi melalui pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Di sisi lain, cadangan pangan yang tersedia saat ini diharapkan dapat menopang daerah-daerah tersebut. Antara lain dengan stok beras di Bulog yang mencapai 60 ton, dan stok pangan di lapangan sekitar 30 ton lebih.

Ada juga pangan yang disebutnya tersebar di lumbung pangan masyarakat. Meskipun tidak terlalu besar nilainya. Namun diproyeksikan cukup untuk membantu mengantisipasi kerawanan pangan. “Mudah-mudahan dalam iklim yang masuk puncak musim kemarau ini kita monitor, kita pastikan bahwa kondisi pangan strategis terutama beras,” jelasnya. (bay)