Sebaiknya Siswa Jangan Dulu Masuk Sekolah

Seorang ibu menunggu anaknya pulang sekolah pada Rabu, 20 Januari 2021. Pihak sekolah mengatur proses penjemputan siswa untuk menghindari kerumunan yang berpotensi terjadinya penularan virus corona. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Simulasi pembelajaran tatap muka telah berjalan hampir sepekan. Berbagai kendala serta risiko dihadapi sekolah di tengah pandemi. Perbedaan pandangan masih muncul terkait protokol kesehatan. Menghindari munculnya klaster baru sebaiknya anak-anak jangan dulu masuk sekolah atau pembelajaran dikembalikan secara daring.

Keinginan dikembalikan pembelajaran secara daring disampaikan oleh Kepala SMPN 1 Mataram, Drs. Saptaji Akbar. Pasalnya, sekolah tidak bisa sepenuhnya diberikan tanggungjawab mengawasi aktivitas siswa untuk menerapkan protokol kesehatan. “Kalau di sekolah bisa kita atur. Tetapi setelah keluar dari gerbang ndak mungkin kita awasi anak sampai rumahnya. Kalau begitu saya nyerah,” kata Saptaji ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 20 Januari 2021.

Iklan

Selama hampir sepekan proses simulasi pembelajaran tatap muka tetap berjalan. Pihaknya mengatur jumlah siswa dengan blok terbatas. Satu kelas di tiap tingkat berisi 32 murid dikurangi menjadi 16 murid dengan jarak duduk diatur 1,5 meter. Waktu belajar disepakati berlangsung selama dua jam.

Menurutnya, pembelajaran di tengah pandemi tidak bisa disamakan dengan kondisi normal. Wali murid harus kooperatif melaksanakan standar operasional prosedur (SOP) penerapan protokol kesehatan (prokes) demi kesehatan dan keselamatan anak. ‘’Bukan itu saja, kami di tiga sekolah ini yakni SMPN 15 dan SMPN 2 memiliki kesepakatan sendiri jam masuk dan pulang untuk menghindari kerumunan,” bebernya.

Penerapan sistem baru di sekolah dipastikan memiliki kendala. Sekolah masih mencari bentuk teraman, sehingga tim gugus tugas diminta mengevaluasi pelaksanaan simulasi setiap hari. Dari evaluasi itu akan dilakukan perbaikan kekurangan dan lain sebagainya.

Menjadi perdebatan lanjutnya, terkait definisi kerumunan. Saat ini, siswa masuk belajar 200 orang. Kerumunan pasti muncul karena mereka belajar dalam satu kelas meskipun jaraknya diatur. Perbedaan persepsi itu perlu disamakan, sehingga sekolah tidak disalahkan. Koreksi dari tim gugus tugas dibutuhkan sebagai masukan bagi sekolah untuk proses pembelajaran. “Daripada sekolah disalahkan oleh semua orang lebih baik pembelajaran dikembalikan ke daring. Nanti kalau sudah tidak ada pandemi baru belajar normal,” ucapnya.

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang mengatakan, rekomendasi pembelajaran tatap muka dikeluarkan berdasarkan keputusan bersama tim gugus tugas. Tetapi perlu juga dievaluasi pelaksanaan simulasi pembelajaran di sekolah, apakah berkaitan dengan peningkatan kasus baru atau temuan lainnya di lapangan.

Sejauh ini, belum ada laporan diterima bahwa ada klaster baru Covid-19 di sekolah. “Tentu segera kita akan evaluasi,” ucapnya. Potensi kerumunan dipicu maraknya pedagang jadi masukan dan segera ditindaklanjuti dengan meminta Satuan Polisi Pamong Praja menertibkan pedagang yang berjualan di luar sekolah. (cem)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional