Sebagian Warga Kota Bima Masih Hidup di Bawah Tenda

Kota Bima (Suara NTB) – Banjir yang melanda Kota Bima penghujung tahun 2016 lalu masih menyisakan trauma bagi sebagian warganya. Hingga saat ini sebagian warga masih lebih nyaman hidup di bawah tenda, karena akibat musibah itu rumah dan harta benda berharga lainnya hanyut dibawa banjir.

Mereka harus menahan panas di kala terik matahari dan kedinginan pada malam hari. Bahkan trauma dan kegelisahan masih membayangi, jika langit mendung pertanda hujan turun. Seakan-akan banjir itu datang lagi.

Iklan

Hal itu dialami sejumlah kepala keluarga (KK) di Kelurahan Penaraga Kecamatan Raba. Tercatat empat KK, masing-masing dua KK di RT 8 dan dua KK di RT 9. Mereka menghabiskan waktu setiap hari dengan beralaskan tenda.

Salah seorang penghuni tenda, Rusdin A. Hamid mengaku, telah menempati tenda kurang lebih selama empat bulan. Atau tepatnya tiga hari setelah banjir melanda Kota Bima.

“Rumah panggung hanyut dibawa banjir setinggi dua meter. Sehingga saya terpaksa membangun tenda sebagai tempat tinggal,” katanya.

Dikatakan, selama ini pemerintah sudah memberikan beberapa bantuan. Baik berupa makanan, kompor gas hingga pakaian layak. Hanya saja yang diinginkannya saat ini, tempat hunian yang layak.

“Karena setiap hari kami merasakan kepanasan. Kedinginan saat malam. Tidur pun tidak nyenyak karena banyak nyamuk,” katanya.

Diakuinya, Pemerintah Kelurahan dan BNPB pernah mendatanginya pada awal Januari lalu, untuk melakukan pengecekan. Bahkan saat itu juga menjanjikan akan membangun secepatnya rumah pengganti.

“Namun hingga saat ini hal itu tidak kunjung terealisasi.  Saya berharap rumah yang akan dijanjikan segera dibangun,” harapnya.

Di tempat yang sama, Sumarni yang mengalami nasib serupa, terpaksa membangun tenda di atas tanah bekas bangunan rumahnya. Karena rumah dan seisinya hanyut dibawa banjir.

“Berharap kepada pemerintah, agar secepatnya membangun rumah pengganti. Minimal tempat yang layak untuk menampung dua orang anak perempuan saya,” tuturnya.

Selain di RT 8. KK yang mengalami nasib yang sama, juga terdapat di RT 9. Yakni Hafsah dan Mardin. Kedua KK tersebut terpaksa membangun tenda, sebagai alas tidur dan menampung anggota keluarga setiap hari. (uki)