Sebagian Besar Wilayah NTB Dilanda Kemarau

Sebagian besar wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau. Tampak pada peta bagian legenda titik  berwarna merah merupakan wilayah yang sudah masuk musim kemarau. Dan wilayah dengan titik hijau belum masuk musim kemarau. (Suara NTB/staklimkediri)

Mataram (Suara NTB) – Hasil monitoring BMKG Stasiun Klimatologi Kediri Lombok Barat (Lobar) menunjukkan, sebagian besar wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau. Hal ini terpantau dari monitoring curah hujan pada 3 dasarian berturut-turut  yang kurang dari 50 milimeter (mm).

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kediri Lobar, Luhur Tri Uji Prayitno, SP yang dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 12 Mei 2019 menjelaskan, meskipun sebagian besar wilayah NTB sudah dilanda kemarau. Tetapi ada juga wilayah yang belum memasuki musim kemarau.

Iklan

‘’Sebagian besar di wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau,’’ katanya.

Luhur menjelaskan, setiap wilayah di NTB awal masuknya musim kemarau berbeda-beda. Setiap wilayah dibagi menjadi Zona Musim atau yang di sebut ZOM. Di  NTB terdapat 21 ZOM. Awal Musim Kemarau (AMK) di NTB berkisar antara Maret dasarian kedua  sampai dengan Mei dasarian pertama  ( Maret II –  Mei I).

Awal musim kemarau datang dari sebelah timur NTB terlebih dahulu yakni Pulau Sumbawa, baru ke arah Pulau Lombok. Pulau Lombok yang paling terakhir di NTB  untuk awal musim kemaraunya.

‘’Puncak musim kemarau di NTB adalah di bulan Agustus,’’ jelas Luhur.

Dijelaskan, hasil monitoring curah hujan pada dasarian 1 bulan Mei 2019 di wilayah NTB pada umumnya rendah-menengah. Curah hujan kategori tinggi di atas 150 mm/dasarian  terjadi di Pulau Lombok bagian tengah. Curah hujan tertinggi pada dasarian 1 Mei 2019 tercatat di Pos Hujan Pringgasela, Lombok Timur sebesar 401 mm/dasarian.

Ia mengatakan, sifat hujan pada dasarian 1 Mei 2019 umumnyadi  atas normal.  Dari Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH), sebagian besar wilayah NTB masuk dalam kategori pendek (6-10 hari) hingga sangat pendek (1-5 hari). Meskipun demikian, kata Luhur, sudah ada beberapa pos yang masuk kategori menengah (11-20 hari) hingga panjang (21 – 30 hari).

HTH dengan kategori panjang terjadi di Pos hujan Sekongkang, Sumbawa Barat (27 hari), Pos Hujan Jereweh, Sumbawa Barat (26 hari), dan Pos hujan Mujur 2, Lombok Tengah (25 hari)

Ia menambahkan, kondisi suhu muka laut di perairan NTB menunjukkan kondisi normal hingga mendingin.  ENSO pada kondisi el  nino lemah. Analisis angin menunjukkan angin timuran sudah mulai aktif.  ‘’Kondisi tersebut mengurangi peluang hujan sebagian besar wilayah NTB. Pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini berada dalam fase kering (subsiden),’’ jelasnya.

Meskipun sebagian wilayah NTB telah memasuki musim kemarau, kata Luhur, pada dasarian II Mei masih berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan di bawah 50 mm/dasarian. Yang berpeluang terjadi  di wilayah Sumbawa bagian tengah hingga selatan. Kemudian sebagian besar Sumbawa Barat dan sebagian kecil Lombok Timur.

‘’Dampaknya, masyarakat perlu mewaspadai perubahan cuaca yang terjadi selama awal periode musim kemarau,’’ ujarnya mengingatkan. (nas)