Sebagian Besar Dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Mengendap di Rekening

Pembangunan  rumah korban  gempa  Lingsar yang sudah selesai. Pembangunan terus dilanjutkan, khususnya di rumah warga yang jadi korban gempa. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (suara NTB) – Bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban  gempa  yang sudah  diterima  Pemkab Lombok Barat (Lobar) mencapai  hampir Rp 400 miliar.  Anggaran ini sudah masuk ke rekening BPBD  dan korban gempa.  Dari total anggaran itu,  baru  sebagian dapat dicairkan oleh kelompok masyarakat (pokmas). Sisanya  sebagian besar  masih mengendap  di rekening kelompok.  Hingga penghujung 2018, sekitar 45 unit Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) sudah seratus persen selesai dan siap huni.

“Pokoknya dana yang sudah diproses dari pusat itu sudah dicairkan kepada rakyat sebesar  Rp 400 miliar. Dan semua dalam proses pembangunan,” ungkap Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Lobar, H. Lalu Winengan, Rabu,  2 Januari 2018.

Iklan

Menurutnya dana bantuan itu mengendap di pokmas akibat  masih dalam proses oleh pokmas. Apalagi beberapa pokmas tidak hanya memilih model Risha, namun juga bangunan Rumah Instan Sederhana Konvensional (Riko).“Kalau yang RIKO ini harus buat pondasi,” ujarnya.

Ia menilai jika dibandingkan kabupaten dan daerah lain, penanganan bantuan rumah di Lobar terbilang paling cepat. Sejauh ini untuk Risha sudah terbangun sekitar 45 unit. Kemudian sebanyak 30 unit Riko tengah dalam proses pembangunan pondasi di kawasan Desa Selat Narmada. Terkait dengan transparansi penganggaran oleh pokmas, Winengan memastikan pihaknya tidak bisa mengintervensi, sebab pihaknya hanya bertugas memvalidasi. Selain itu, pendampingan melalui fasilitator. Sedangkan untuk pengawasan menjadi ranah pihak kepolisian, TNI termasuk masyarakat.”Kalau sudah di pokmas itu kewenangan pokmas,” imbuhnya.

Pihaknyapun tidak berani memastikan pengerjaan pembangunan bantuan rumah bagi seluruh korban rampung Maret 2019 mendatang sesuai dengan target Wapres Drs. H. M. Jusuf Kalla. Terlebih lagi beberapa kendala yang dihadapi, mulai dari ketersediaan aplikator untuk pembuatan panel hingga keterbatasan tukang. Bagaimana tidak sisa tukang yang tersedia di Lobar hanya sekitar 400 orang. (her)