Satu Bulan, 249 Kasus ‘’Suspect’’ DBD Ditemukan di NTB

Ilustrasi Nyamuk Aedes Aegypti (Suara NTB/Flickr)

Mataram (Suara NTB) – Selama satu bulan atau sepanjang Januari 2019, sebanyak 249 kasus suspect (terduga) Demam Berdarah Dengue (DBD) ditemukan di NTB. Penemuan kasus suspect DBD paling banyak di Lombok Barat (Lobar) mencapai 105 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A mengatakan, pihaknya masih menunggu data dari puskesmas atau rumah sakit. Dari 249 warga yang suspect DBD, berapa yang positif kena demam berdarah. Datanya akan diperoleh pada minggu kedua Februari ini.

Dikonfirmasi di Mataram, Senin (4/2) siang, Nurhandini merincikan penemuan kasus suspect DBD di masing-masing kabupaten/kota sepanjang Januari 2019.  Kasus suspek DB di  Lombok Barat 105 kasus, Lombok Timur 25 kasus, Lombok Tengah 24 kasus, Sumbawa 22 kasus, Kota Mataram 20 kasus, KLU 19 kasus, Kota Bima 16 kasus, Dompu 9 kasus, Bima 6 kasus dan Sumbawa Barat 3 kasus. Sehingga totalnya 249 kasus suspect DBD.

‘’Paling banyak Lombok Barat di Kuripan dan Sekotong. Kalau Kuripan itu daerah padat penduduk. Sedangkan Sekotong banyak lubang galian (tambang emas), tempat perindukan nyamuk banyak,’’ ujarnya.

Ia mengatakan, semua kabupaten/kota sudah melakukan pemberantan sarang nyamuk (PSN) dan fogging fokus. Lombok Barat sebagai daerah yang paling banyak ditemukan kasus suspect DBD sudah melakukan PSN massal dan fogging. Termasuk beberapa kabupaten/kota juga telah melakukan fogging fokus, seperti Dompu.

Nurhandini mengatakan Pemprov sudah menyurati Pemda kabupaten/kota tentang kewaspadaan demam berdarah. Ia menyebut banyaknya penemuan kasus suspect DBD pada awal tahun ini karena merupakan puncak dari siklus 10 tahunan demam berdarah.

Tahun lalu, kata mantan Kepala Dikes Lombok Tengah (Loteng) ini, kasus DBD di NTB lebih dari 800 kasus. Tahun ini, baru sebulan saja angkanya kasus suspect DBD telah menembus 249 kasus. ‘’Kasusnya naik, ini baru satu bulan lebih dari 200 kasus, meningkat dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya,’’ katanya.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah kasus demam berdarah ini, kata Nurhandini dengan membagikan abate atau larvasida. Serta melakukan fogging fokus. ‘’Kita juga mengirim obat-obatan ke kabupaten/kota,’’ ujarnya.

Menurutnya, fogging tak akan mampu menyelesaikan masalah. Makanya, Dikes meminta agar dilakukan PSN. ‘’Makanya kami minta PSN dulu. Insya Allah aman daerah itu. Kalau fogging saja, maka dua minggu lagi nyamuknya akan kembali lagi,’’ katanya. (nas)