Satu BPR Jadi Atensi OJK

Rico Rinaldy. (Suara NTB/bul)

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mengatensi satu Bank Perkreditan Rakyat (BPS) karena tingkat kredit macetnya (NPL/Non Performing Loan) tinggi dan naik signifikan. “Kredit macetnya naik signifikan di atas 20an persen. Agak ke luar jalur,” kata Kepala OJK Provinsi NTB, Rico Rinaldy kepada Suara NTB, Rabu, 14 Juli 2021.

Terhadap satu BPR yang dianggap jatuh karena tingkat kredit macetnya tinggi ini, Rico menyatakan akan ditelusuri penyebab. Apakah benar-benar karena faktor situasi ekonomi di tengah pandemi ini ataukah ada kemungkinan lain. Misalnya fraud (penyimpangan/manipulasi dana bank). Yang penting diperhatikan oleh OJK adalah, apakah terjadi kenaikan signifikan, atau sebaliknya.

Iklan

Penurunan kredit macet yang signifikan. Jika terjadi penurunan kredit macet yang signifikan, ini berarti cukup baik. Namun berbeda halnya jika terjadi kenaikan kredit macet yang signifikan. “Kalau terjadi pemburukan signifikan, berarti ada apa ini. Tapi kalau turun naiknya kredit macet ini dikisaran 11  12, 11  12 persen, berarti mereka menjaga posisinya. Malah ada yang turun juga kredit macetnya dari 17 persen menjadi 9 ke 7 persen,” imbuhnya.

Terdapat 31 BPR/BPR Syariah yang beroperasi di NTB. Sebelumnya, 32 BPR/BPR Syariah. Namun diantaranya dilakukan penyatuan (merjer). Sehingga menjadi 31 BPR/BPR Syariah. Kondisi BPR/BPR Syariah ditengah pandemi Covid-19 ini pada umumnya stabil. “Kita nggak bilang bagus ya. Malah ada yang turun kok NPLnya,” katanya. Trend dalam beberapa bulan terakhir ini, lanjut Rico, terlihat NPL BPR/BPR Syariah cukup stabil.

Kendatipun terjadi naik turunnya kredit macet, hal itu menurutnya biasa. Bahkan berlaku di hampir seluruh jenis bisnis. Apalagi dengan keadaan ekonomi seperti saat ini. Rico menyimpulkan, dengan situasi turun naiknya kredit macet BPR/ BPR Syariah yang relatif masih stabil ini adalah dinamis. Tetapi tidak kearah kondisi memburuk.

Kondisi yang disampaikan ini berdasarkan data yang sudah diolah hingga posisi Mei 2021. “Nanti kita lihat lagi perkembangannya pada posisi Juni. Teman-teman masih mengolah datanya,” imbuhnya. Sampai kondisi yang sekarang, hampir seluruh BPR/BPR Syariah dinyatakan masih aman. Kecuali satu BPR yang tidak disebutkan secara rinci. Kekuatan modal BPR/BPR Syariah umumnya kata Rico cukup tinggi untuk mengantisipasi berbagai risiko keuangan. Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal yang berguna untuk menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi bank diatas 70, cukup kuat kata Kepala OJK NTB yang belum lama menjabat di NTB ini. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional