Satu Balita Meninggal, DBD Meluas di Dompu

Petugas dari Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Dompu, saat melakukan kegiatan pengasapan di Kelurahan Potu, Kamis, 28 Januari 2021.(Suara NTB/Jun)

Dompu (Suara NTB) – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Dompu, semakin meluas. Bahkan, warga terjangkit ditemukan merata pada 81 Desa/Kelurahan di Delapan Kecamatan. Tragisnya, salah seorang pasien balita dinyatakan meninggal dunia akibat virus berbahaya tersebut.

Kasi Penyakit Menular (PM) P2PL Dikes Dompu, Ns. Edy Suharja, S. Kep., kepada Suara NTB disela kegiatan pengasapan di Kelurahan Potu, Kamis, 28 Januari 2021 menyampaikan, warga terjangkit DBD hampir ditemukan pada tiap Desa/Kelurahan. Hal itu berdasarkan laporan puskesmas dan tim medis rumah sakit umum. “Hampir semua Desa/Kelurahan sekarang ditemukan warga terjangkit DBD,” ungkapnya.

Iklan

Meluasnya sebaran penyakit menular ini, selain pengaruh cuaca ekstrem selama beberapa bulan terakhir, juga dipicu kebersihan lingkungan yang tidak terjaga dengan baik.

Upaya pengasapan, menurut dia, menjadi salah satu langkah alternatif di tengah lemahnya kesadaran warga, seperti yang dilakukan di Kelurahan Potu dan Desa Kareke. Pada dua wilayah ini ditemukan sejumlah pasien positif DBD. “Ini titik-titik temuan kasus, bahkan masuk surat baru lagi dari Mako Brimob, itu karena ada salah seorang anggota terjangkit DBD,” jelasnya.

Ditegaskan Edy Suharja, warga terjangkit DBD setelah gigitan nyamuk Aides Aegipty merata di awal tahun ini. Bahkan sebelumnya petugas sampai keliling ke sejumlah kecamatan untuk kegiatan pengasapan, seperti di Kempo, Kilo, Woja, Huu dan hari ini di Dompu.

Sementara untuk wilayah lain yang tidak kalah banyak temuan kasus DBD seperti di Kecamatan Pekat, pihaknya terkendala anggaran operasional. Tetapi untuk Manggelewa murni akibat daerah tersebut rentan terendam banjir, sehingga menyulitkan upaya petugas dalam pemberantasan nyamuk dewasa.

Terkait data warga terjangkit DBD selama Januari 2021, Ia menyebutkan, dari tim medis rumah sakit tercatat 34 orang, yang mana satu diantaranya telah dinyatakan meninggal dunia. Sementara untuk sembilan puskesmas, laporan pasien DBD yang tengah ditangani ada namun belum bisa diberikan secara keseluruhan. “Puskesmas baru lapor saja, nanti awal Februari akan dikirimkan laporan semua pasien yang sudah ditangani sebulan ini,” ujarnya.

Meninggalnya salah seorang balita akibat penyakit menular itu, menurut dia, besar kemungkinan akibat lamban dibawa berobat ke sarana kesehatan. Karena belum lama mendapat penanganan tim medis, ia menghembuskan nafas terakhir di ruang IGD. “Informasinya, itu sudah beberapa hari dirawat di rumah karena demam dan mimisan. Jadi baru beberapa saat masuk langsung meninggal di IGD,” pungkasnya. (jun)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional