Satgas Pangan Telusuri Penyebab Turunnya Harga Telur

Sidak Satgas Pangan ke pemasok telur konsumsi di Pasar Mandalika. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Satuan Tugas (Satgas) Pangan Provinsi NTB melakukan penelusuran penyebab terjadinya penurunan harga telur. Informasi awal dikumpulkan dari pemasok/distributor telur yang ada di Pasar Percontohan Mandalika Kota Mataram.

Satgas Pangan bergerak langsung turun lapangan Senin, 4 Oktober 2021. Terdiri dari Dinas Perdagangan Provinsi NTB sebagai koordinator, Polda NTB, Dinas Nakeswan NTB, Pol PP. DPMPTSP Provinsi NTB,dan  Dinas Perdagangan Kota Mataram. Berdasarkan informasi dari pemasok besar telur yang ada di Pasar Mandalika ini, bahwa, harga telur konsumsi saat ini mengalami penurunan harga sejak sebulan lalu.

Iklan

Harga telur dari Jawa rata-rata harganya Rp35.000/trai. Turun dari harga biasa Rp40.000/trai. Imam, pemilik UD. Enggal Jaya kepada Satgas Pangan menjelaskan, pasokan telur dari luar NTB sejauh ini tak terganggu. Berapapun kebutuhan yang diminta oleh pasar, tetap dapat dipenuhi. Ia sendiri misalnya, dalam lima hari sekali mendatangkan sebanyak 5.040 trai.

Telur konsumsi yang didatangkan ini biasanya dijual lagi kepada pengecer telur yang ada di Pasar Mandalika. Meski harga telur konsumsi turun, permintaan juga cenderung turun. Biasanya sekali mendatangkan lima hari sekali, belakangan lebih lama, sepuluh hari sekali. Imam mengatakan, telur yang didatangkan dari Jawa diambil dari peternak unggas langsung di Kediri, Jawa Timur.

Izin memasukkan telur ke Lombok (NTB) hanya menggunakan rekomendasi dari daerah asal (Jawa Timur). Kemudian diberikan izin oleh Karantina Hewan dan Tumbuhan. Imam mengatakan, telur yang dibawa masuk biasanya hanya dengan rekomendasi dari daerah asal, dan izin dari Karantina Hewan dan Tumbuhan, telur-telur dari Jawa ini sudah bisa leluasa dibawa masuk ke Lombok.

Sementara itu, keterangan dari Farida, pemilik UD. Farida Telur dijelaskan, masuknya telur-telur dari luar daerah membuat telur yang dihasilkan peternakan unggas lokal menjadi kalah saing. UD. Farida adalah pemasok telur unggas lokal ke para pedagang-pedagang telur yang ada di Pasar Mandalika. Farida menyebut harga telur lokal saat ini bervariasi, dari Rp31.000/trai hingga Rp35.000/trai. Turun harga dari biasanya Rp40.000/trai. Masuknya telur-telur luar ini membuat para peternak lokal kalang kabut.

Khawatir penumpukan stok dan berpotensi merugikan telur lokal karena gempuran telur-telur dari luar daerah, Farida mengatakan peternak unggas lokal akhirnya turun langsung menjual telur-telur hasil produksi unggasnya. “Karena khawatir telurnya tidak terjual karena masuknya telur luar daerah, akhirnya peternak nganvas, ecer langsung telurnya. Turun bersaing langsung. Mungkin itu juga penyebab turunnya permintaan telur di pasaran,” imbuhnya.

 Dalam sehari, biasanya distribusi telur unggas lokal di Pasar Mandalika ini sampai 40 trai. Karena masuknya telur luar, terjadi penurunan penjualan telur lokal menjadi 20 trai hingga 25 trai perhari. Farida menjelaskan, salah satu keunggulan telur lokal lebih fresh. Panen, langsung dibawa ke pasar. Berbeda halnya dengan telur-telur yang didatangkan dari luar. Biasanya tidak fresh karena proses masa panen, pengepakan, pengiriman antar pulau, kemudian pengepulnya, lalu ke gudang sebelum dijual langsung.

“Kadang-kadang kuning telurnya sudah encer karena lama proses dan lama di jalan. Makanya untuk yang buat kue biasanya nyarinya telur lokal,” imbuhnya. Ia juga berharap agar telur-telur yang didatangkan dari luar batasi. Agar tidak merugikan peternak unggas lokal. Sementara itu, mewakili Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Drs. Fathurrahman, M. Si, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri, Ir. H. Prihatin Haryono, dan Kepala Bidang Pengawasan, Haryono, SH mengatakan, memang harusnya diatur antara kebutuhan dengan jumlah telur yang dimasukkan dari luar daerah ke Lombok.

“Tidak juga menyetop telur-telur dari luar. Karena kita masih ada kebutuhan. Tetapi harus diatur, berapa yang boleh masuk. Sehingga tidak juga mematikan peternak unggas di dalam daerah. Nanti kita koordinasikan lagi dengan pihak-pihak terkait agar tata kelolanya bisa diatur proporsional,” demikian Prihatin Haryono. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional