Satgas Investasi Intai Pencari untung di Balik Wabah Corona

Penumpang di pintu kedatangan domestik LIA menggunakan masker untuk antisipasi penularan virus Corona, Selasa, 3 Maret 2020. Sejak wabah Corona masuk Indonesia, harga masker meroket hingga Rp 300 ribu per kotak.    (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Wabah virus Corona yang diidentifikasi sebagai COVID-19 membuat warga hilang rasionalitas. Respons panik membuat warga berbondong memborong masker dan cairan pencuci tangan. Akibatnya, stok kosong dan harga melonjak di pasaran. Suplai dua komoditi kesehatan yang paling diburu ini sejak tiga minggu belakangan memang sudah mulai macet. Permintaan meningkat seiring virus Corona yang menjangkiti dua warga Indonesia per Senin lalu.

Masker dan cairan pencuci tangan kini masuk dalam barang pengawasan Satgas Investasi Provinsi NTB. “Kita sudah cek ke sembilan distributor resmi dan supplier masker,” ungkap Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto saat menerima Suara NTB di ruang kerjanya, Rabu, 4 Maret 2020. Satgas digerakkan sesuai dengan arahan Presiden RI kepada Kapolri, yang intinya untuk mengantisipasi penimbunan di tengah kelangkaan barang di pasaran. Bahkan, ancaman pidana juga dipakai untuk orang yang dengan sengaja menyimpan barang itu demi keuntungan ekonomi.

Iklan

Lewat Satgas itu, fungsi kepolisian bersama Dinas Perdagangan dan Dinas Kesehatan dipadukan. “Jadi memang di NTB sudah tiga minggu belakangan suplai dari produsen di Jawa terhenti karena permintaan tinggi,” bebernya. Masker, yang kini menjelma menjadi idaman masyarakat mencegah Corona, dijual dengan mahal. Per kotak isi 50 lembar yang awalnya Rp50 ribu sampai 70 ribu, kini melambung sampai Rp 270 ribu-300 ribu. Stok masker sebenarnya tidak benar-benar kosong.

“Stok ada di gudang farmasi. Tapi itu hanya untuk persediaan medis (di fasilitas-fasilitas kesehatan). Tidak untuk diperjualbelikan,” kata Artanto mengutip hasil koordinasi dengan Satgas Investasi. Lonjakan pesat harga masker di NTB, imbuh dia, tak lebih pada bekerjanya hukum ekonomi pada barang dengan permintaan tinggi. Peredarannya pun harus melalui distributor resmi, laiknya alat kesehatan lainnya.

Produsen menjualnya masih dengan harga standar yang diatur dalam harga eceran tertinggi pada produk-produk kesehatan. Harga naik di tingkat eceran. Yang dijual perorangan maupun di gerai atau apotek. “Untuk sanksinya nanti itu secara administrasi dari Dinas. Kami di kepolisian fokus menyelidiki siapa yang menimbun. Sampai saat ini belum ada indikasi,” kata Artanto. Ketentuan larangan menimbun termaktub dalam UU RI Nomor 7/2014 tentang Perdagangan. Pasal 29 ayat 1 menyebutkan, pelaku usaha dilarang menyimpan barang kebutuhan pokok dan atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, dan atau hambatan lalu lintas perdagangan barang.

Ketentuan pidananya diatur dalam pasal 107, yakni pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda paling banyak Rp50 miliar. “Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan. Juga jangan panik menghadapi situasi. Sesuai imbauan pemerintah, masker hanya untuk yang sakit untuk mencegah penularan atau petugas medis yang menangani kasus virus tersebut,” terang Artanto.

Antisipasi Spekulan

Stok masker di pasaran tiba-tiba saja hilang. Masker menjadi salah satu yang paling banyak diburu masyarakat. Terlebih setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya WNI yang terpapar corona. Dinas Perdagangan Provinsi NTB langsung melakukan pengawasan, mengantisipasi adanya kemungkinan penimbunan atau aksi spekulan. Berdasarkan pantauan di beberapa apotik di Kota Mataram, tidak ditemukan adanya penjualan masker, rata-rata mengaku stoknya kosong.

Kepala Bidang Pengawasan dan Tata Niaga Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Haryono  saat turun ke Apotik Kimia Farma di Jalan Pejanggik Mataram mengaku, merebaknya virus corona di sejumlah daerah di Indonesia menyebabkan permintaan masker di NTB cukup tinggi. Ia mengatakan, sejak 2 pekan pasokan masker dari distributor sangat terbatas. Harganya pun mengalami kenaikan antara 3 hingga 5 kali lipat dari harga normal.

“Harganya naik beberapa kali lipat, stoknya juga sudah tidak ada sejak 2 minggu terakhir,” katanya. Karena tingginya permintaan dan terbatasnya stok, penjualan masker juga dibatasi hanya hanya 10 pcs saja untuk setiap pembeli saat stok masih tersedia. Lebih dari sepuluh biji, tidak diperkenankan agar konsumen mendapat jatah rata.

Sejak diumumkan adanya WNI yang terpapar virus corona oleh Presiden Joko Widodo, Indonesia menjadi gempar. Di kota – kota besar dikhawatirkan terjadi kepanikan, lalu berbelanja kebutuhan secara berlebihan (panic buying). Untungnya, di NTB, tidak nampak kepanikan itu, kecuali untuk dua jenis barang. Masker dan pencuci tangan gel (hand sanitizer). Di beberapa tempat-tempat belanja, semua masih berjalan normal. Pemerintah juga telah mengimbau, jangan berlebihan.

Ketua Forum Komunikasi Sales dan Marketing (FKSM) Provinsi NTB, Jefri memaparkan, dari koordinasi dengan seluruh anggota, sementara ini yang paling banyak dicari adalah masker dan sabun gel pembersih tangan. “Hand sanitizer ini biasanya untuk orang-orang tertentu saja yang beli. Sekarang semuanya nyari. Selain masker,” katanya kepada Suara NTB.

Sebelumnya karena permintaannya tak banyak, para distributor hanya memesan seadanya. Karena sifatnya hanya kebutuhan pelengkap. Akibatnya, saat terjadi permintaan tinggi saat ini, stok menjadi kosong. “Konsumen mungkin berpikir kita sembunyikan. Barangnya memang ndak ada, kosong,” katanya kepada Suara NTB, Selasa, 3 Maret 2020. (why/bul)