Sasaran Pertama 14.380 Nakes, NTB Terima 28.760 Dosis Vaksin Sinovac

H. Lalu Gita Ariadi (Suara NTB/nas), Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov telah menerima 28.760 dosis vaksin Sinovac dari Pemerintah Pusat. Sebanyak 28.760 dosis vaksin Covid-19 tersebut untuk vaksinasi 14.380 tenaga kesehatan (Nakes) tahap pertama di NTB.

Puluhan ribu dosis vaksin tersebut diterima  Sekda NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si., di Kantor Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, Selasa, 5 Januari 2021. Vaksin tersebut kemudian disimpan di cold room milik Dikes NTB.

Sekda mengatakan, vaksin yang diterima dalam keadaan baik. Sebelum dilakukan vaksinasi, akan dilakukan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat.

‘’Dan kita mengikuti juklak dan juknis apa yang ditentukan oleh Pemerintah Pusat. Kami amankan dengan standar keamanan prima,’’ ucapnya.

Ia juga mengaku siap untuk divaksin Covid-19 untuk menjadi contoh bagi masyarakat. Diharapkan, vaksinasi Covid-19 tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengurangi risiko penularan dan menekan kasus  Covid-19.

Sementara, Kepala Dikes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A menyebutkan, vaksin Covid-19 yang dikirim ke NTB sebanyak 15 koli. Dengan jumlah 28.760 dosis. Karena masing-masing Nakes diberikan dua dosis, maka vaksin tersebut untuk 14.380 Nakes di NTB.

‘’Ini digunakan untuk tenaga kesehatan yang ada di NTB. Ini vaksin 28.760 dosis, berarti untuk 14.380 orang. Karena satu orang dua kali penyuntikan,’’ terangnya.

Eka menyebutkan, hingga Senin, 3 Januari 2021 pukul 23.59 Wita, sebanyak 30 ribu Nakes yang terdata di NTB. Namun, masih ada sekitar 5.000 Nakes yang belum masuk datanya ke sistem informasi SDM kesehatan.

Sebanyak 25 ribu Nakes sudah masuk datanya ke sistem informasi SDM Kesehatan. Sebanyak 30 ribu Nakes tersebut yang akan menjadi sasaran vaksinasi Covid-19 di NTB.

‘’Tetapi kami sudah merencanakan, sebelum tanggal pelaksanaan, kita melakukan skrining. Karena ada 12 penyakit yang tidak boleh diimunisasi. Kita ingin pastikan bahwa semua tenaga kesehatan ini betul-betul sesuai persyaratan yang boleh divaksinasi,’’ ucapnya.

Sebanyak 28.760 dosis vaksin yang telah diterima sudah diamankan di cold room yang memiliki kapasitas 37.000 liter. Ia menjelaskan, rencananya vaksinasi Covid-19 di NTB masuk gelombang kedua. Karena gelombang pertama akan dilaksanakan di 14 provinsi.

‘’Nanti pada saat jadwal vaksinasi NTB, karena kita gelombang kedua. Kalau gelombang pertama 14 provinsi. Tanggal berapa tenaga kesehatan divaksin, baru kita kirim ke kabupaten/kota,’’ terangnya.

Ia mengatakan, vaksin tersebut harus disimpan pada suhu 2 – 8 derajat celcius. Cold room yang ada di Dikes NTB, sudah diatur suhunya di angka 4 derajat celcius.

‘’Inilah yang kita pertahankan sampai dilakukan vaksinasi. Untuk menjaga keamanan dan keefektifan vaksin tetap terjaga,’’ imbuhnya.

Eka menjelaskan, vaksin tersebut harus tetap dijaga pada suhu 2 – 8 derajat. Jika tidak dijaga pada suhu tersebut, maka vaksin tersebut ketika disuntikkan bisa tidak efektif.

Ditambahkan, vaksinasi nantinya akan dilakukan di rumah sakit dan Puskesmas. Ia menyebutkan, vaksinasi akan dilakukan di 31 rumah sakit dan 171 Puskesmas di NTB.

Pada 7 – 9 Januari mendatang, akan dilakukan pelatihan kepada supervisor. Kemudian, 11 – 13 Januari, pelatihan kepada 400 vaksinator. Ia menyebut, sudah ada 350 vaksinator bersertifikat di NTB. Sehingga, jika ditambah dengan 400 orang yang akan dilatih, maka jumlah vaksinator di NTB menjadi 750 orang.

‘’Rencana vaksinasi tenaga kesehatan antara Januari – Maret. Kalau vaksinasi tenaga kesehatan selesai sebelum Maret, maka yang lain bisa dipercepat,’’ katanya.

Untuk vaksinasi Nakes tahap pertama yang direncanakan Januari – Maret, dengan jumlah dosis sebanyak 28.760 untuk 14.380 nakes. Maka, akan diprioritaskan bagi Nakes yang ada di rumah sakit rujukan Covid-19 tingkat pertama dan rumah sakit rujukan kedua. Kemudian ke  Nakes-nakes yang lain.

Meskipun vaksinasi terhadap belasan ribu Nakes akan segera dimulai. Eka mengingatkan masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan Covid-19. Karena vaksinasi tersebut membuat kekebalan pada diri sendiri. Sementara, masih banyak masyarakat yang belum divaksin.

‘’Jadi, kalaupun sudah ada vaksinasi, protokol kesehatan harus tetap dijalankan. Skenario vaksinasi Indonesia baru selesai 15 bulan. Berarti sampai triwulan I 2022, baru selesai vaksinasi. Baru namanya herd immunity atau kekebalan komunitas, mulai muncul. Jadi, sampai saat itu, kita harus tetap patuh pada protokol kesehatan,’’ tandasnya. (nas)