Sarana dan Prasarana Terbatas, Siswa SDN 3 Sigar Penjalin Diliburkan Saat Hujan

Kondisi belajar mengajar di SDN 3 Sigar Penjalin yang tidak representatif bagi guru dan murid. Saat hujan, murid harus dipulangkan, karena tergenang air hujan. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Aktivitas belajar mengajar di beberapa sekolah pascagempa masih terganggu. Di SDN 3 Sigar Penjalin Satap (Satu Atap) SMP 1 Tanjung, hingga kini masih kekurangan RKB (ruang kelas belajar). Akibatnya murid, terutama SD, dipulangkan lebih awal, menjelang tengah hari maupun sesaat sebelum turunnya hujan.

Informasi yang dihimpun koran ini, RKB Satap SD 3 Sigar Penjalin dan SMP 1 Tanjung hanya dibekali masing-masing 3 unit. 3 RKB SD dan 3 RKB SMP. Sementara jumlah siswa cukup banyak. Murid SD saja sebanyak 185 orang, terdiri dari 7 rombongan belajar (rombel).

Iklan

Guru SMP Satap Sigar Penjalin, Mugni, kepada Suara NTB mengatakan kondisi RKB sementara tidak layak untuk aktivitas belajar mengajar. Pascagempa, belajar dipersingkat.  “Bantuan sarana hanya dapat 3 lokal dari DAK. Siswa belajar kadang sampai jam 12 sudah pulang. Masih belum normal,” ujarnya.

Untuk siswa SMP, sebagian menempati gedung baru. Namun bagi guru SMP, masih berkantor seadanya. Ruang guru di ruang sementara. Setengah dindingnya kalsiboard, setengahnya lagi dari dinding bambu.

Guru Kelas 5 SD 3 Sigar Penjalin, Lalu Sara’in menguatkan, muridnya masih belajar di sekolah darurat. Dengan bangunan permanen hanya 3 ruang, pihaknya tidak bisa memaksakan seluruh anak menempati ruang tersebut.

Kondisi sekolah darurat lebih parah. Sekolah yang terbuat dari kerangka baja berdinding kalsiboard itu, bolong di sana sini. Air hujan merembes dengan mudahnya. Jika hujan lebat dan air menggenang, ruang murid otomatis tidak bisa digunakan. “Kalau hujan belajar sekadar saja. Kalau hujan tertiup angan, berhenti karena buku anak-anak basah kena air, ” ujarnya.

Tidak jarang kata Sara’in, siswa dipulangkan sebelum hujan turun. Atau saat terik panas menyengat ruangan, siswa juga dipulangkan. Dalam keadaan normal, siswa dipulangkan pukul 12.15 wita.

Di tengah kondisi itu, pihak sekolah berharap adanya respons cepat pemerintah daerah agar siswa menempati tempat yang lebih layak. Sebab tidak hanya ruangan, prasarana meja, bangku, papan dan alat peraga siswa juga rusak akibat gempa. Tersisa hanya 30 persen saja bangku dan meja yang bisa dimanfaatkan. “30 persen, duduk dipaksakan bertiga sampai berempat di satu bangku,” imbuhnya.

Sama dengan sekolah lain yang belum normal, pihak SD 3 Sigar Penjalin juga tidak bisa memaksakan seluruh dana BOS untuk keperluan sarana dan prasarana. Setiap triwulan pencairan, sekolah paling maksimal bisa membeli 5 unit bangku dan meja. “BOS bisa saja, tapi tidak bisa maksimal. Paling 5 unit. Dari kemarin anggarkan 5. Kebutuhan lain juga mendesak,” tandasnya. (ari)