Sanksi bagi Muslim Belum Jelas

Sekda Kota Mataram, H. Effendi Eko Saswito (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Tim Penegak Disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Mataram belum memutuskan terkait sanksi apa dijatuhkan ke Muslim. Rapat tim tak kuorum karena satu anggota tim penegak disiplin tak hadir.

Mantan Kepala SMAN 7 Mataram yang kini menduduki posisi Kepala Bidang Pemuda pada Dinas Pemuda dan Olahraga santer jadi sorotan publik. Dia diduga melakukan pelecehan terhadap stafnya Baiq Nuril.

Iklan

Sidang indisipliner, Rabu, 21 November 2018, dipimpin oleh Ketua Badan Pertimbangan dan Kepangkatan yang juga Sekda Kota Mataram, Ir. H. Effendi Eko Saswito, Asisten III Dra. Hj. Evi Ganevia, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Baiq Nelly Kusumawati dan staf Bagian Hukum.

Evi dikonfirmasi usai rapat mengatakan, belum ada keputusan apapun dari tim. Rapat tersebut tidak kuorum karena Kepala Bagian Hukum tidak hadir. “Belum kuorum,” jawabnya Evi.

Mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Mataram ini belum berani mengambil kesimpulan terkait sanksi bagi Muslim. Tim akan kembali menggelar rapat. “Belum ada. Nanti ada rapat lagi,” katanya.

Eko menambahkan, sanksi tidak bisa sembarangan diberikan. Pelanggaran tergantung apakah tindakan bersangkutan kategori berat atau ringan. Tim sifatnya merekomendasikan dan membuatkan telaah staf ke pejabat pembina kepegawaian. “Pak Wali nanti selebihnya yang menjatuhkan sanksi,” tambah Eko.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, H. Amran M. Amin mengatakan, permasalahan dihadapi stafnya masuk ranah pribadi. Ia tidak ikut dalam permasalahan tersebut, apalagi kasusnya bergulir sejak lama. “Kalau itu kan masalah pribadi beliau,” ucapnya.

Pembinaaan juga telah lama dilakukan oleh Pemkot Mataram. Amran mengaku, menyerahkan sepenuhnya ke kepala daerah terkait sanksi dan lain sebagainya. Kabid Pemuda tersebut tambah Amran, tetap masuk bekerja. Walaupun secara psikis terganggu oleh pemberitaan maupun media yang mencari tahu keberadaannya. “Beliau tetap bekerja. Kalau ndak ada di kantor, kita maklum saja psikisnya terganggu,” demikian kata Amran. (cem)