Sampah Menumpuk, Kades Kritik DLH Lobar

Sampah di kawasan Tanjung Nyet Lembar menuju pelabuhan kapal pesiar menumpuk, karena pengangkutan tidak berjalan maksimal.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Kepala Desa (Kades) Labuan Tereng Humaidi Husai Kecamatan Gerung Lombok Barat (Lobar) mengkritik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang terkesan tidak siap menangani sampah di kawasan strategis pelabuhan Kapal Pesiar Gili Mas. Pasalnya, sampah dibiarkan menumpuk di pinggir jalan menuju pelabuhan tersebut. Padahal dari sisi kesiapan warga sudah siap. Dan dukungan dari pihak Pelindo III Lembar pun sudah memberikan bantuan kendaraan kontainer sampah kepada desa.

Humaidi mengatakan pihaknya sudah sering berkoordinasi dan komunikasi dengan DLH Lobar terkait pengangkutan sampah di kawasan Tanjung Nyet. Hanya saja dinilai dinas belum siap menangani sampah ini. “Kita, lintas sektor di Lembar ini sering koordinasi masalah sampah ini, karena sampah ini sangat memberi nilai positif kalau bersih. Apalagi ada program CHSE dari Dinas Pariwisata, lagi getol-getolnya. Tapi DLH ini belum siap, tidak sinkron. Sampah menumpuk, baru 2-3 minggu baru diangkut,” kritiknya, Selasa, 29 Desember 2020.

Dari sisi masyarakat, jelas dia, juga sudah siap dan sadar membuang sampah pada tempatnya, hanya saja itu menjadi percuma karena pengangkutan sampah tidak diangkut, sehingga mengakibatkan sampah menumpuk bahkan meluber hingga ke jalan. Pemandangan ini, jelas dia, membuat jorok dan kotor. Berbeda ketika di awal-awal rutin diangkut, warga membuang sampah sudah bagus. Namun karena pengangutan tidak rutin, warga membuang sampah sembarangan.

Seharusnya sampah diangkut lima kali seminggu, karena di kawasan ini banyak pedagang dan kawasan ini menjadi wajah pelabuhan kapal pesiar. “Kita kasihan juga kepada Pelindo, kok sampah tidak diangkut? Padahal kita disumbang kontainer oleh Pelindo,”imbuh dia.
Menanggapi hal ini, Kepala DLH Lobar Budi Darmajaya mengaku tidak mempersoalkan dikritisi oleh desa. Ia mengaku ada keterlambatan pengangkutan, karena keterbatasan armada amrol.

Pihaknya mengapresiasi bantuan kontainer sampah dari Pelindo ke desa, karena GM Pelindo konsisten dengan janjinya kepada Bupati Lobar membantu kontainer. Hanya saja, ujarnya, pada saat penyerahan tidak ada koordinasi dengan DLH, tapi langsung ke desa. “Yang kita bingungkan di titik-titik mana ditaruh kontainer itu, kita kan ndak tahu. Tiba-tiba diserahkan ke desa, tanpa ada pemberitahuan ke kami. Di sana lah kami kelabakan mengangkut, karena kami tidak tahu titik kontainer yang ditaruh. Itu persoalannya,”kata dia.

Pihaknya pun menyampaikan ke Pelindo bahwa kontainer akan diatur ulang, karena DLH perlu mengetahui titiknya, sehingga pihaknya mengambil alih, memindahkan ke titik tumpukan sampah di kawasan Lembar. ”Baru-baru ini sudah mulai diangkut, memang kendala juga pengangutan. Karena armada amrol untuk Lembar itu cuman satu unit. Itu saja kendalanya,”aku dia.
Untuk pengelolaan sampah di Lembar, diharapkan desa bisa mengelolanya. Di samping di masyarakat, sampah di kapal juga banyak, sehingga hal ini diharapkan juga oleh Pelindo agar dilakukan desa. “Sekarang desa, sudah siap ndak mengelola itu,”ujar dia.

Pihaknya juga sudah memprogramkan penanganan khusus sampah di beberapa kawasan strategis seperti di Lembar, Gerung, Kediri dan Batulayar. Sementara waktu, karena kekurangan armada maka dibangunkanlah TPS di beberapa daerah itu, di lokasi yang terjadi penumpukan sampah. (her)