Sambik Elen Desa Porang, Potensi Besar, Omzet Awal Capai Rp480 Juta

Petani Porang Sambik Elen membangun Gapura Desa Porang dari dana swadaya. Porang mengubah Sambik Elen dari desa identik kering menjadi desa beromset miliaran rupiah di masa depan. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Potensi porang di Kabupaten Lombok Utara (KLU) cukup besar. Target budidaya melibatkan petani mencapai 3.500 hektare, memanfaatkan lahan kritis, lahan nganggur, maupun lahan hutan (di luar hutan lindung).

Dari sekian banyak potensi, Desa Sambik Elen Kcamatan Bayan adalah satu wilayah desa yang sudah menikmati betapa menguntungkannya bertani porang. Panen perdana di desa itu, terjadi pada tahun 2016. Saat itu, petani sudah mampu memproduksi (panen) umbi porang sejumlah 160 ton basah.

Iklan

“Pada panen perdana tahun 2016, harga jual kamisaat itu Rp 3.000 per kg (di total Rp 480 juta),” ujar Koordinator Petani Porang Kecamatan Bayan, Putra Anom, Jumat, 3 September 2021.

Awal budidaya porang, ujarnya, petani di Desa Sambik Elen dan desa lain, belajar dan bertani secara otodidak. Pengadaan bibit juga demikian. Bibit porang yang dibudidaya adalah bibit liar yang diperoleh dari kebun atau kawasan hutan. Sebagian juga dibeli dari luar daerah, meski tanpa kualitas sertifikat.

Petani menyadari, butuh kesabaran dalam bertani porang. Sebab jenis dan usia bibit menentukan lamanya waktu panen. Untuk bibit dari umbi, masa tanam hingga panen bisa 1 tahun. Bibit dari katak, butuh 3 tahun. Sedangkan bibit dari bunga, butuh waktu 4 tahun.

Dalam perjalanannya, hiruk pikuk petani mendapat atensi, guru besar – pakar lahan kering Universitas Mataram, Prof. Ir. H. Suwardji, M.App.Sc., Ph.D. Sekilas mengamati semangat dan perjalanan warga dalam berbudidaya, ia pun memutuskan mempelajari porang dari hulu hingga hilir. Hingga sang profesor pun, memutuskan membuat konsep kemitraan.

Visinya dalam membangun ekonomi petani melalui porang mendapat dukungan perusahaan otomotif ternama, PT. Astra Internasional. Hingga di wilayah Bayan, dibentuklah kelompok-kelompok Tani Porang. Semangat awal di 4 desa, yakni Sambik Elen, Senaru, Akar-Akar dan Batu Rakit (pemekaran Desa Sukadana).

Suwardji dan Astra lantas menunjuk Putra Anom, sebagai koordinator yang mengawal kemitraan dengan kelompok tani. Hasilnya, saat ini sudah ada pengembangan 750 hektare lebih di 4 desa. Ekspansi ini berlanjut di 7 desa di Kecamatan Gangga, kecuali Segara Katon. Misi besar ini dikemas dalam satu hajat program bernama, Desa Sejahtera Astra.

Putra Anom mengatakan, komitmen dan keseriusan profesor dan Astra cukup besar. Perhatian tidak hanya pada petani, tetapi juga warga lansia dan disabilitas. Mereka dibantu dengan sembako yang diserahkan melalui kelompok petani porang.

“Saat ini kami sedang membangun gapura, yang menegaskan Desa Sambik Elen sebagai Desa Porang. Gapura Desa Porang kami bangun dari dana swadaya. Iuran anggota ditambah honor Pak Suwardji,” aku Putra Anom.

Di Sambik Elen, petani diakui mulai bersemangat. Selain anggota kelompok, petani di luar anggota juga sudah mulai ikut menanam. Hal ini karena porang memiliki potensi ekonomi yang dapat mengubah nasib petani. “Di Sambik Elen sekarang sudah 37 hektare yang dikelola kelompok. Di luar anggota, lebih luas lagi,” imbuhnya.

Pihaknya berharap, porang bisa menjadi usaha pertanian jangka panjang. Tentunya harus diikuti oleh dukungan Pemda dalam menyiapkan sarana prasarana pendukung, seperti akses jalan, peralatan, hingga industrialisasi yang memungkinkan semua kelompok mengolah dan tidak menjual raw materials. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional