Saling Klaim Aset di Mataram Masih Marak

Mataram (Suara NTB) – Persoalan aset di Kota Mataram ibarat benang kusut. Pasalnya, marak  terjadi saling klaim kepemilikan antara pemerintah dengan pemerintah, pemerintah dengan aparat, dan pemerintah dengan warga.

Sebagai contoh, aset Malomba di Ampenan hingga kini tak jelas siapa pemiliknya. Di satu sisi, Pemkot Mataram mengklaim sebagai milik, sehingga berani membangun stadion sepak bola. Di sisi lain, Pemprov NTB dan TNI Angkatan Laut juga mengklaim demikian.

Iklan

Berikutnya aset RPH Tanjung Karang. Kini, aset itu diduga dikuasai oleh perorangan. Sengketa kepemilikan aset RPH itu masuk ke meja hijau. Tak ada kejelasan hingga saat ini siapa pemiliknya. Kemendagri bahkan turut mengawasi perkara tersebut.

Demikian pula aset shopping center di depan eks RSUP NTB Kelurahan Pejanggik. Aset bekas pasar tradisional itu diduga telah beralih kepemilikan dari hak guna pakai menjadi hak milik.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menjelaskan, beberapa aset seperti Malomba, RPH Tanjung Karang, dan Shopping Center dilakukan inventarisasi dan mengumpulkan bukti sertifikat.

Seperti aset RPH Tanjung Karang masih diperkarakan di pengadilan. Ia pun belum mengetahui seperti apa perkembangan kasusnya. “Kita masih menunggu kasusnya dimasukkan ke pengadilan bahwa ada mengklaim hak milik. Tapi sampai sekarang belum ada tindaklanjut,”kata Denny sapaan akrabnya, ditemui Senin, 25 September 2017.

Sementara, aset shopping center jelas milik Pemkot Mataram berdasarkan berita acara penyerahan aset dari Pemkab Lobar ke Pemkot Mataram. Pihaknya pernah mengumpulkan pemilik ruko untuk mengumpulkan data sekaligus mengklarifikasi.

Persoalan dihadapi selama ini oleh Pemkot Mataram khususnya Badan Keuangan Daerah yakni, susahnya mengumpulkan bukti. Aset – aset dimiliki Pemkot Mataram sebagian besar adalah pelimpahan Pemkab Lobar yang harus dirunut. ” Jelas semua penyerahan ada SK-nya. Dasarnya tidak diberikan. Itu harus dicari karena ada yang hilang,” tutur dia.

Berbeda halnya aset baru yang jelas keberadaan atau alas haknya. Akan tetapi, aset lama meski dicari bukti penyerahan atau SK, dan lain sebagai. “Itu yang susah kita cari selama ini,” demikian ujar Denny. (cem)