Salim Syarif, Sebatang Kara Tinggal di Gubuk Reot

Beginilah kondisi gubuk reot kumuh yang ditempati Salim Syarif, Warga Desa Rensing Bat, kecamatan Sakra Barat, Lotim, Rabu, 22 September 2021. (Suara NTB/rus)

Salim Syarif, pria paruh baya yang sudah lama menduda ini terlihat begitu miris. Warga Dusun Timuq Rurung Desa Rensing Bat Kecamatan Sakra Barat ini  tinggal di sebuah gubuk reot dekat pinggir kali. Sudah belasan tahun lamanya ia tinggal di gubuk yang sangat tak layak disebut rumah itu.

TIDAK tampak ada fasiltas apapun di gubuk reot itu. Karena ukuran tempat tinggal kumuh ini hanya 2 x 2 meter.  Hanya ada karpet kusut dan lusuh tempatnya tidur melepas lelah. Tinggi gubuk bertiang bambu itu tak sampai dua meter dengan beratap terpal dan kain-kain bekas. Saat hujan  mendera, gubuk reot bocor dan terpaksa Salim harus tinggal sementara di teras-teras rumah tetangga.

Iklan

Salim mengaku sempat dijanjikan akan diberikan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) oleh kepala dusun setempat. Akan tetapi sampai sekarang tidak direalisasikan. Sehari-hari, Salim  begelut dengan sampah. Menjadi pemulung untuk menyambung hidup. Menjadi duda sudah cukup lama. Tak punya anak juga membuatnya tak ada sandaran hidup.

Salim mengaku kerap pindah-pindah lokasi rumahnya. Gubuk terakhir yang ditempatinya ini  katanya ia singgahi setahun terakhir. Perilaku nomaden membuat rumah ini katanya sudah pulahan tahun lamanya terpaksa ia lakoni. Ia mengaku aman dan nyaman saja menjalankan hidup karena tidak mau merepotkan orang lain.

Dituturkan, ia sesungguhnya memiliki keluarga  lain yang tinggal satu kampung dengannya. Akan tetapi, dia menolak untuk tinggal bersama saudaranya. “Saya malu dan  tidak ingin merepotkan saudara yang sudah memiliki keluarga dan rumah tangga,” sebutnya.  Salim juga mengaku sebenarnya memiliki sebidang lahan pertanian. Akan tetapi, lahannya itu digadaikan ke saudaranya untuk untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Menjadi pemulung barang-barang bekas ini hanya mendapatkan pengasilan tak seberapa. Hanya  berpenghaslan  Rp. 5.000 perhari. Hal ini jelas tak bisa memenuhi kebutuhan hidup semuanya. Sebelumnya, Salim ini pernah menjadi TKI saat hidup berkeluarga. Kabarnya, Salim ini pun pernah hidup normal dan berkecukupan. Akan tetapi setelah bercerai, kondisi perekonomiannya memburuk.

“Kalau ada rezeki saya beli nasi,” sebutnya. Terkadang  Salim terpaksa menahan lapar karena tak ada uang untuk membeli makanan. Terkadang Salim dibawain makanan oleh saudaranya. Akan tetapi, tapi makanan yang dibawakan itu tak mau ia terima seca begitu saja. “Saya tetap akan bayar, karena saya merasa malu dan tidak ingin menyusahkan orang lain,” tuturnya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Rensing Bat, Hadianto yang dikonfirmasi mengakui kondisi ril yang dialami warganya itu. Menurutnya, yang menjadi soal hanyalah rumahnya yang tidak layak huni.

Pemerintah Desa sudah memasukkan data Salim sebagai penerima  Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial (Kemensos) beberapa waktu lalu. Akan tetapi, BST sudah tidak ada lagi sehingga saat ini belum ada lagi batuan yang bisa diberikan. “Dulu cuma BST itu,  lainnya tidak ada,” ucapnya.

Pemdes Rensing Bat berupaya terus mengupayakan agar membangunkan rumah layak huni  bagi mantan TKI itu. Disebutkan, jumlah masyarakat yang mendapatkan bantuan renovasi RTLH ini tahun ini di Desa Rensing Bat sebanyak 6 orang. “Bantuan kita berikan untuk perbaikan RTLH ini satu rumah tiap dusun,” demikian tuturnya. (rus)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional