Saatnya Kota Mataram Dipimpin Arsitek

Bakal Calon Walikota Mataram, H. Baihaqi (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Kualifikasi seorang arsitek dipandang cocok pemimpin kota. Kualifikasi formal dan pengalaman dalam organisasi politik diharapakan dapat mempercepat terciptanya Mataram sebagai kota yang nyaman bagi warganya dan pendatang. Mataram membutuhkan landmark atau ikon-ikon baru yang menampilkan sudut-sudut keindahan Kota Mataram.

Tampilnya suami dari Hj. Ria Fafriyanie, S.T., ini adalah energi baru di Era Baru Kota Mataram. “Tidak bisa kita mengharapkan perubahan, kalau masih memberikan kepemimpinan pada orang yang sama,” kata Ketua Partai Gelora NTB, HL.Fahrurrozi. Sindiran Ojie begitu menohok. Mengingat selama dua dasawarsa, ibu kota provinsi NTB dikuasai orang-orang dari keluarga yang sama.

Iklan

Aqi lahir dan besar di Mataram. Bermain, belajar, dan mengamati pertumbuhan tanah kelahiran dengan detail. Aqi mendengar dengan jelas apa yang menjadi harapan para tetua atau pini sepuh bumi Mentaram.

Aqi pun mendengar mimpi anak-anak muda Mataram. Tentang daerahnya yang dicita-citakan maju. Tidak kalah dengan daerah lain di negeri ini ataupun negeri lain.
Setiap anak muda Mataram punya mimpi tanah kelahirannya dapat dibanggakan ke siapapun di manapun berada. “Tidak ada yang bisa memahami keinginan anak muda di Mataram sebaik beliau (Baihaqi)” imbuhnya.

Baihaqi kecil menghabiskan waktu untuk mengenyam pendidikan formal dasar hingga menengah atas di Kota Mataram. Pendidikan Stata I diselesaikan di salah satu perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur. Politisi nasional Fahri Hamzah pun kepincut mendukung Aqi melalui Prtai Gelora. Menurut Fahri, Mataram akan berubah bila dikelola pemimpin yang secara keilmuan memadai. “Mataram butuh arsitek!” kata politisi yang dikenal kritis dan memiliki vokal lantang itu.

Sudah terlalu lama, Mataram miskin dengan ide-ide baru dan segar. Sehingga pembangunan ibu kota terkesan stagnan. “Kita pengen dong, membanggakan kota Mataram di depan orang-orang di luar sana,” ungkapnya. Tetapi saat ini tidak ada yang bisa dibanggakan di Kota Mataram. “Malah makin kotor, makin jelek, transportasi publik tidak karuan,” cetusnya. Lebih disesalkan lagi konsep pembangunan tidak ada karakter. “(Bagi saya) bisa dikatakan ini kemunduran,” sesalnya.

Aqi membawa harapan segar bagi ibu kota. Pengalamannya sebagai arsitek membuatnya memahami dengan baik bagaimana kota harus ditata secara etis dan kaya estetika. Catatan karyanya di dunia arsitek terlihat dari karirnya yang cemerlang. Memulai karir tahun 2005 sebagai Staf Teknis Consultan CV. Adi Cipta. Lalu pada tahun 2008 langsung duduk sebagai Direktur CV Karya Agung Consultan. Lima tahun kemudian, sebagai Komisaris CV. Raja Intirayyan. Lalu setelah itu enam tahun kemudian sebagai Direktur PT Lombok Assya Mandiri. “Di sini saya menemukan pasangan BARU yang bisa membawa perubahan itu,” imbuhnya.

Fahri membandingkan Bandung dengan cepat mengalami akselerasi pembangunan setelah dipimpin arsitek. “seperti Bandung yang dibuat keren Ridwan Kamil, Mataram butuh figur serupa,” tekannya. Kota Mataram berbeda dengan ibu kota lain di Indonesia. Beberapa waktu lagi, salah satu wilayah NTB yakni Lombok Tengah (Loteng) akan menjadi tempat perhelatan balapan terakbar sejagat MotoGP.

Mata dunia akan melihat ke ibu kota provinsi NTB, Mataram. Tetapi bila pembangunan di Mataram tidak ada karakter, sulit berharap wisatawan mau datang. Apalagi berharap para wisatawan itu, membanggakan diri pernah menjejakkan kaki di ibu kota provinsi NTB. Karena itu, Mataram harus dirancang dengan ide, gagasan, dan konsep besar. “Kota harus dirancang internasional,” ulasnya.

Pengalaman mengelola organisasi akan menjadi bekal penting bagi Aqi menata birokrasi pemerintahan. Pada tahun 2012-2015 Aqi muda dipercaya menjadi Wakil Ketua Mahasiswa Lombok di Malang. Lalu pada tahun 2015-2019 Ketua Ikatan Arsitek Indonesia NTB. Pengalaman Aqi di dunia politik pun cukup matang. Dia duduk sebagai wakil ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) NTB.

Berbagai catatan sebagai gambaran seperti apa model pembangunan Kota Mataram nanti di bawah kepemimpinan Aqi. “Orang dari Amerika, Rusia, Timur Tengah, Jepang, hingga China, akan datang ke sini, karenanya pembangunan di Mataram harus berakarakter NTB,” pungkasnya.

Aqi bahkan mendapat anugrah gelar Datoq Seri oleh Kerajaan Malaysia tahun 2018 lalu. Fahri kemudian menutup keyakinannya dengan mengatakan pasangan H. Baihaqi-Hj Diyah Ratu Ganefi telah dipersiapkan membawa perubahan bagi Kota Matram. “Pasangan ini selain ideal, seperti dipersiapkan sejarah untuk menyelamatkan Kota Mataram,” pungkasnya. (ndi/*).