Saat Kota Air Dilanda Krisis Air

AMBIL AIR - Warga Sedau sedang mengambil air di sumur. Mereka mengharapkan bantuan pipanisasi untuk mengalirkan mata air dari sumbernya ke perkampungan warga. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Kondisi masyarakat Desa Sedau Kecamatan Narmada Lombok Barat (Lobar) begitu tragis. Lantaran sebagai daerah penghasil air justru sepanjang tahun mengalami krisis air bersih. Empat dusun yang ada di daerah itu hanya bergantung dari air sumur yang dibuat secara pribadi oleh warga.

PULUHAN tahun lamanya ribuan jiwa penduduk Desa Sebau bergantung dari air sumur, lantaran belum ada bantuan perpipaan dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Berharap bantuan PDAM pun sampai saat ini belum ada, mereka hanya pernah dibantu oleh Pemerintah Jepang melalui program Care.

Iklan

Bantuan pipa yang menggabungkan mata air dengan perkampungan warga tahun 1980 ini pun kondisinya sudah rusak, sehingga warga tak lagi bisa terlayani. Warga pernah dijanjikan proyek rehabilitasi jaringan pipa oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) sejak 2016, namun belum direalisasikan semuanya.

Kadus Sedau Gondang Sarmah menuturkan, awalnya kebutuhan air warga bisa terpenuhi dari bantuan pipa Pemerintah Jepang. Namun lambat laun, akibat minim perawatan dan pengelolaan kurang beres menyebabkan pipa banyak bocor. Warga banyak mengambil air secara liar, sehingga pipa pun bocor di mana-mana. “Dulu bisa dapat air dari saluran Kerodokan (pipa bantuan dari Jepang), tapi sudah rusak, sehingga tak bisa lagi sampai ke daerah kami. Dulu pernah mau ditambah pipanya namun tidak jadi sampai sekarang,”keluhnya.

Air Kerodokan ini disambung melalui sumber air di goa Lawah sepanjang 7 kilometer. Pipa bantuan ini diusulkan oleh kades pertama, sehingga direspons oleh pihak terkait. Warga pun ketika itu bergotong-royong memasang pipa. Butuh waktu cukup lama bagi warga untuk menyelesaikan pemasangan pipa tersebut. Setelah pipa terpasang dan air mengalir ke pemukiman warga, semua warga pun bisa terlayani air. Namun akibat pengelolaan yang kurang bagus, menyebabkan kondisi pipa pun kurang terurus. Banyak warga yang mengambil air melalui pipa tersebut, sehingga menyebabkan pipa bocor di mana-mana.

Puncaknya, sejak beberapa tahun lalu pipa ini hanya bisa melayani beberapa dusun di daerah bagian dataran tinggi di desa setempat. Sementara daerah yang berada di bagian bawah (dataran rendah) tak bisa terlayani air. Bahkan saat ini Suplai air hanya bisa sampai ke desa tetangga saja, sedangkan warga setempat sudah tidak bisa terlayani.

Sumber air ini pun, jelasnya. pernah ingin diambil alih oleh PDAM, namun warga menolak karena khawatir dijual sebagai air baku, sehingga masyakarat tambah kesulitan air. Warga ingin agar pihak PDAM menyambungkan pipa ke pemukiman warga, namun tidak bayar.  Sebab jika dimintai bayar sama artinya warga membeli air sendiri, padahal daerah setempat sebagai sumber mata air. “Kalau PDAM mau ambil sumber air, tapi gratiskan warga Sedau, baru warga mau. Kalau kami diminta membeli atau membayar ya kami tidak mau. Ini kan hitung-hitung apresiasi ke kami sebagai sumber mata air,”ujarnya. Ia mengaku jika mendapatkan program pipa, warga mau bergotong-royong bahkan akan membuat awik-awik mengantisipasi pencurian air.

Munahar, mantan Kades Sedau mengaku pernah dijanjikan proyek rehabilitasi jaringan pipa air baku oleh BWS Nusa Tenggara I  sepanjang 7 kilometer yang menghubungkan antara reservoar di gua Lawah dengan pemukiman warga. Pihak terkait telah menjanjikan sejak 2016 lalu, namun sampai saat ini belum direalisasikan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Lobar Made Artadana mengatakan pihaknya akan turun ke daerah setempat untuk melakukan pengecekan lapangan. “Kami akan segera turun, tapi kami minta desa bersurat ke kami,’’ ujarnya. Sebelumnya, persoalan krisis air ini pernah disampaikan ke Dinas PUPR, pihak dinas pun menindaklanjuti dengan meminta titik lokasi, namun sejauh ini belum dipenuhi oleh desa. (her)