Saat Bawang Merah Tak Pernah Ada Jaminan Harga

PANEN – Petani panen bawang merah di Lotim. Meski demikian, tingginya hasil produksi belum diimbangi harga yang pantas bagi petani. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB)  – Komoditi bawang merah menjadi salah satu andalan petani di Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Hanya saja selama beberapa bulan terakhir harga si siung merah ini anjlok. Besar harapan petani harga bawang merah ini normal. Harga berlaku saat ini Rp 300-500 ribu per kuintal untuk kering. Harga sama dengan saat masih hijau. Karenanya petani memilih melelangnya saat masih berdaun hijau.

Realita harga jual pada musim tanam 2018  yang dihadapi petani jelas menimbulkan kerugian besar. Pasalnya, biaya produksi bawang merah ini Rp 100-120 juta per hektare. Komoditi hortikultura yang sejatinya paling prospek meningkatkan nilai tukar petani (NTP) tidak berlaku untuk komoditi bawang merah kali ini.

Iklan

Menurut pengakuan Amaq Rosi Sandria, petani bawang merah Penanggak Desa Tirtanadi Kecamatan Labuhan Haji, harga dasar petani baru bisa dapat untuk Rp 1-2 juta per kuintal. Akan tetapi, harga itu seperti mimpi bagi petani untuk saat ini.

Hal senada disampaikan Amaq Rizal yang menyebut fakta saat ini petani memang buntung menanam bawang. Saat situasi pahit yang dialami petani ini pemerintah dipertanyakan kemana? Sementara, yang dihadirkan pemerintah ke tengah-tengah petani adalah ajakan untuk meningkatkan produksi dengan memberikan sejumlah bantuan bibit.

Diketahui untuk Kabupaten Lotim ada bantuan bibit untuk 70 ha tahun 2018. Sebelumnya ada bantuan 200 ha tahun 2017. Saat bantuan-bantuan tersebut panen, harga jual justru anjlok.

Tidak saja pemerintah, sejumlah perusahaan-perusahaan pun tidak sedikit yang mendatangi petani dengan sejumlah tawaran produk strategi peningkatan produksi. Namun lagi-lagi, saat petani sudah berhasil meningkatkan produksi, harga entah kemana. Dikesankan petani selama ini hanya dipaksa produksi. Sedangkan tidak pernah diberikan jaminan harga yang berpihak pada nasib para petani.

“Petani hanya diajarkan produksi, produksi banyak-banyak.Tapi siapa jamin penjualan. Petani seperti diperas,”  kritik Amaq Rizal yang juga seorang pengepul bawang merah ini. Besar harapannya, ada kebijakan yang populis pada petani dari pemerintah dan para pelaku bisnis bawang lainnya.

Melihat fluktuasi harga bawang merah yang cenderung merosot ini membuat sebagian besar petani bawang memilih menanam komoditi lain. Disebut Amaq Rizal, sekitar 60 persen mundur jadi petani.

Kabar mengenai kerap masuknya bawang impor membuat petani semakin menjerit. “Dua tahun importir kabarnya masukkan barang, masuknya legal,” katanya.Bawang tersebut antara lain dari Vietnam. Untuk bibit luar ini dijual kepada petani dengan harga yang sangat mahal. Kisaran Rp 3-4 juta per kuintal. “Saat ini jadinya hanya petani yang kaya yang bisa tanam bawang,”  ungkapnya.

Saat proses produksi, para petani dihadang oleh berbagai persoalan. Mulai dari hama. Terlebih di musim kemarau saat ini. Sementara itu, tawaran obat-obatan yang disajikan oleh para pengusaha melonjak tajam tanpa sedikit kompromi pada nasib petani. Harga obat-obatan ini sama sekali tidak pernah turun. Malah sebaliknya, terus merangkak naik. Kondisi itulah yang membuat petani semakin tinggi harga produksinya.

Pengalaman di Lotim, ada sejumlah perusahaan yang datang dengan tawaran demplot. Mulai dari demplot bibit bawang merah hingga demplot jenis obat-obatan yang digunakan. Petani Lotim ini tidak sedikit yang berhasil. Namun banyak juga yang gagal. Saat keberhasilan dengan produksi besar, lagi-lagi pertanyaannya kemana hendak dijual. Sementara saat gagal, sudah pasti tak tahu kemana harus diadukan.

“Intinya untuk saat ini, petani rugi banyak,” paparnya. Di tengah rendah, hama penyakit menyerang ganas. “Siapa bertanggung jawab, perusahaan juga tidak bertanggung jawab, setelah pindah tanam lalu panen, lepas begitu saja,” imbuhnya.

Development Bawang Merah PT Agrosid Jakarta, RikySianipar, mengaku pernah memiliki binaan petani di Lotim. Perusahaan besar ini mengajarkan petani cara tanam bawang bersama dengan konsultannya Adi Wijaya dari Prisma.

Berbagai cara pun diberikan agar petani bisa meningkat produksi dan produktivitas bawang merahnya. Harapan besar dari Agrosid ini seiring produksi meningkat, kesejahteraan petani juga meningkat.

Saat ditanya Suara NTB apakah disertakan dengan jaminan pembelian? Konsultan Prisma, AdiWidjaya mengatakan belum bisa memberikan apa yang selama ini menjadi keluhan para petani saat harga anjlok. Soal harga, katanya menjadi mekanisme pasar. “Jaminan harga tidak ada karena kan memang tergantung pasar,” jawabnya.

Pihaknya belum sampai pada tahapan untuk jaminan penjualan. Meski demikian, pihaknya sudah berencana untuk mencarikan solusi tersebut. “Kita juga ingin antara produksi dengan penjualan ini seimbang,” katanya.

Lombok Timur bisa dicarikan pasar di luar negeri atau daerah lain. Dilihat, secara market di areal-areal produksi seperti Bima dan Lombok Timur sendiri sudah over produksi. Sehingga saat situasi seperti ini, salah satu tawaran solusinya harus dibawa keluar hasi produksinya. Daerah-daerah non sentra produksi sejauh ini sebenarnya sangat membutuhkan. Seperti Kalimantan, NTT atau Papua. Produksi lokal di daerah-daerah tersebut diidentifikasi sangatlah terbatas, sehingga banyak tergantung pada daerah penghasil seperti dari NTB ini. (rus)