Rumah Adat Limbungan Tak Ada Akses Air Bersih

Selong (Suara NTB) – Warga yang mendiami Rumah Adat Limbungan Desa Prigi Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur belum memiliki akses air bersih. Masalah air bersih ini tahun ini akan mulai ditangani. Anggaran Rp 200 juta dipersiapkan untuk Rumah Adat Limbungan Barat dan Limbungan Timur.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lotim, H. Moh Juhad, warga sudah lama mengeluhkan masalah air bersih. Harapannya tahun ini masalah air bersih ini bisa teratasi dan masyarakat adat Limbungan tidak pusing lagi masalah air bersih.

Iklan

Warga sebenarnya sudah berusaha mengalirkan air bersih dari sumber mata air terdekat. Akan tetapi belum maksimal. Terlihat hanya menggunakan pipa-pipa kecil dan lebih sering macet. Jarak mata air dengan perkampungan warga pun cukup jauh. “Dari mata air kampung adat ini jaraknya 4 km,” urainya.

Anggaran Rp 200 juta rencana akan dibagi dua masing-masing Rp 100 juta untuk Limbungan Barat dan Limbungan Timur. Rencananya akan dialirkan pipa dari sumber mata air tersebut. Dibangunkan bak lalu dialirkan ke rumah adat. Konsepnya tetap mengedepankan kearifan lokal. “Kita akan buatkan bong  (gentong air), sehingga tidak menghilangkan lokalistik,” ungkapnya.

Dinas Pariwisata Lotim ini selama tiga tahun terakhir ini terus menata kompleks Rumah Adat Limbungan menjadi lebih baik, sehingga bisa menjadi daya tarik wisatawan. Pada tahun 2016 lalu dimulai dengan menata rumah adat dengan alokasi anggaran Rp 2,5 miliar.  Menyusul tahun 2017 digunakan anggaran Rp 1,8 miliar untuk melanjutkan penataan rumah adat beserta dengan berugak. Tahun 2018 tidak ada penataan rumah adat dan lebih mengedepankan fasilitas.

Kondisi saat ini terlihat selang-selang kecil yang terpasang di sekitar rumah adat memperburuk keadaan. “Selang-selang kecil yang terpasang itu kelihatan kayak cacing, kotor. Kita mau buat kehidupan masyarakat adat Limbungan yang sehat dan bersih,” ucapnya.

Limbungan diketahui saat ini belum seperti Sade di Lombok Tengah. Namun kelebihan Limbungan ini jumlah rumah adat lebih banyak. View-nya lebih menarik. Ada pemandangan alam pegunungan dan hamparan luas pantai yang terpantau dari atas perbukitan.  Warga yang mendiami rumah adat sampai saat ini sangat mempertahankan nilai-nilat adat istiadat. “Kalau ada warganya mau rumah pemanen harus keluar dari kompleks rumah adat,”  tegasnya. (rus)