Rudat Setia Budi Terengan, Bertahan Karena Kecintaan

Mataram (suarantb.com) – Seni tradisi komedi rudat Setia Budi Terengan membuktikan diri dengan terus bertahan melewati beberapa zaman. Karena kecintaan para punggawa-punggawanya, seni rudat Setia Budi Terengan tetap bertahan dan berkembang.

Sebagai sebuah seni tradisi yang masih bertahan di tengah arus kekinian, sebagian besar masyarakat sudah berpaling kepada sesuatu yang bersifat aktual. Seni tradisi komedi rudat Setia Budi Terengan Kabupaten Lombok Utara (KLU) tetap mempertahankan diri, menelaah zaman, berbaur bersama kekinian dan bercerita tentang waktu silam. Dan rasa cinta terhadap kekayaan budi leluhur menjadi pemacu untuk terus maju.

Iklan

Hal tersebut disampaikan Pimpinan Seni Tradisi Rudat Setia Budi Terengan, Zakaria. Ia menuturkan kelompok tersebut bertahan sampai sekarang karena rasa kecintaan kepada seni yang diwariskan leluhur supaya tetap dilestarikan. Menurutnya banyak sekali nilai-nilai positif yang akan sangat berguna sebagai bekal hidup di dunia dalam pertunjukan seni rudat.

“Dari hobi dan senang saya, kemudian mencoba meneliti dan menelaah ada apa di balik seni tradisi ini. Ternyata banyak sekali hal-hal bermanfaat yang bisa dipetik dari kesenian ini. khususnya untuk kami pribadi di Terengan. Berasal dari sana, kami mengajak segenap generasi muda untuk belajar dan melestarikan seni tradisi komedi rudat ini,” ujarnya, Minggu, 14 Agustus 2016.

Pria yang akrab disapa Jack ini menjelaskan beberapa hal yang sifatnya filosofis juga terkandung dalam pola urutan pada permainan seni tradisi rudat. Seperti jumlah tiga bagian dalam tari rudat, menggambarkan tiga fase kehidupan yang akan dilalui oleh umat manusia sebelum menuju sang Pencipta.

Hal tersebut mutlak harus dihayati segenap manusia di dalam menjalani kehidupan di bumi ini. Termasuk juga mengucapkan salam sebelum memulai pertunjukan, hingga pola baris-berbaris. Semua hal tersebut, lanjut Zakaria, tak luput dari muatan-muatan nilai filosofis.

  Pra Muktamar NW ke-13  Bahas Wisata Halal

“Dalam permainan juga dimulai dengan syair selamat datang, itu menandakan bahwa seharusnya kita ucap salam atau mendahulukan salam. Kemudian baris-berbaris yang bermakna apapun yang akan kita lakukan di muka bumi ini, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan-persiapan, itu filosofinya,” tutur Zakaria.

Salah seorang Budayawan NTB, Akhmad JD yang dikonfirmasi suarantb.com mengatakan masih tetap bertahannya seni tradisi rudat Terengan merupakan fenomena menarik dan pantas mendapat apresiasi dari segenap kalangan. Menurutnya, ada segi otentik yang ditampilkan oleh kelompok seni tradisi tersebut, baik dalam hal penyajian maupun pola regenerasi yang dilakukan.

Ia sendiri merasa sangat bersyukur dengan adanya kelompok kesenian tradisi yang masih dilestarikan tersebut. “Satu-satunya rudat yang paling bertahan. Ya, dia pintar sekali, dia merasa memiliki kesenian ini. Jadi diturunkan dari generasi ke generasi, jadi selamat ini,” katanya.

Terkait dengan peran pemerintah dalam pemberdayaan seni-seni tradisi? Akhmad menilai sejauh ini masih terlihat tumpang tindihnya tanggung jawab pemerintah mengenai siapa yang seharusnya melakukan pembinaan demi keberlangsungan kesenian secara umum. Ia mengungkapkan, berbeda dengan zaman sebelum reformasi, dimana pemerintah selalu mengaitkan dua lembaga, yakni lembaga pendidikan dan kebudayaan menjadi dwi tunggal lembaga. Sebab bagaimanapun juga pendidikan akan melahirkan kebudayaan dan kebudayaan memperkaya pendidikan.

“Agak susah, pemerintah kita kan goyah , tidak tetap jika dibandingkan dengan dulu. Sekarang ini, warisan dua lembaga yang dikembangkan menjadi kembar, pendidikan dan kebudayaan, sudah tercerai berai sejak pemerintahan reformasi,” ungkapnya.

Ia pun berpesan agar dwi tunggal kelembagaan, yakni lembaga pendidikan dan kebudayaan jangan sampai dibuat terpisah.Karena akan sangat berdampak buruk pada generasi mendatang, dalam hal melestarikan kesenian dan kebudayaan.

“Dari awal pemerintahan Republik Indonesia ini selalu menggandengkan yang dua tadi, pendidikan dan kebudayaan. Pada suatu waktu kan terpecah-pecah. Di daerah misalkan, ada Dinas pendidikan pemuda dan olahraga, terpecah dia,” terangnya. (ast)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here