RSUD NTB Tingkatkan Kewaspadaan Virus Corona

Lalu Hamzi Fikri (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Ditetapkannya kasus penyebaran virus Corona sebagai darurat kesehatan publik internasional menjadi atensi di seluruh dunia. Tidak terkecuali pemerintah daerah di NTB yang menyiapkan strategi pencegahan dan penanganan, seperti penyiapan ruang pemeriksaan dan ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Direktur RSUD NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri MM, MARS., menerangkan pihaknya saat ini tengah mengupayakan penambahan tempat tidur untuk mengantisipasi penanganan kasus virus Corona. Khususnya setelah World Health Organization (WHO) menyatakan penyebaran virus mematikan tersebut sebagai public health emergency of international concern (PHEIC) atau perhatian internasional tentang darurat kesehatan publik.

Iklan

‘’Karena WHO mengeluarkan semacam warning (peringatan) atau sistem kewaspadaan dini, kami pun harus lebih kuat lagi,’’ ujar Fikri saat dikonfirmasi, Senin, 3 Februari 2020 di Mataram. Penguatan tersebut melingkupi kapasitas tim medis serta penyiapan sarana-prasarana.

Diterangkan Fikri, saat ini RSUD NTB tengah melakukan penambahan tempat tidur untuk proses isolasi bagi pasien yang diduga positif Corona. ‘’Kita mau tambah sampai delapan tempat tidur, termasuk untuk ruang intensif dan di ruang IGD. Ruang isolasi kita juga saat ini ada empat yang sudah disiapkan,” ujarnya.

Jumlah tempat tidur yang khusus disiapkan untuk penanganan corona di RSUD NTB sendiri sampai saat ini baru berjumlah enam. “Dua lagi masih on progress,” ujar Fikri. Sementara itu, tenaga kesehatan yang akan melakukan penanganan disebut telah siap.

Proses penanganan virus di RSUD NTB bukan hal baru. Diterangkan Fikti, sebelumnya pihaknya juga telah melakukan penanganan untuk kasus SARS dan Mers-Cov. Mengingat virus corona memiliki kesamaan dengan kedua epidemi tersebut, maka dari segi kesiapan tim medis diberikan simulasi yang tidak jauh berbeda.

Simulasi dilakukan setiap apel pagi di RSUD NTB serta di beberapa kesempatan lainnya. Selain itu, koordinasi juga terus dilakukan melalui Corona Crisis Center (3C) yang telah dibentuk di tingkat provinsi beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, bagi masyarakat yang tidak menunjukkan gelaja positif corona namun datang dari negara yang memiliki riwayat positif virus tersebut, maka RSUD NTB juga melakukan penanganan. Diantaranya berupa observasi dan asesmen di Grha Mandalika. “Di Grha Mandalika di lantai empat kita siapkan 16 tempat tidur untuk ruang observasi dan pengawasan,” ujarnya.

Penanganan di Grha Mandalika sendiri dilakukan sebagai upaya pencegahan. Sampai saat ini, pemeriksaan tersebut telah dilakukan kepada delapan orang Mahasiswa NTB yang pulang dari China. Seluruh Mahasiswa tersebut belakangan dinyatakan bebas dari corona dan diberikan kartu high alert card (HAC) sebagai bukti telah menjalani pemeriksaan.

Di sisi lain, RSUD NTB juga masih berkoodinasi dengan stakeholder terkait. Khususnya untuk penanganan dua orang Mahasiswa asal NTB yang diketahui tengah menjalani observasi dan asesmen di Natuna, Kepulauan Riau. “Kami sudah berkoodinasi dengan KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan). Ketika nanti KKP (melaporkan) ada gejala, tentunya akan masuk ruang isolasi, tapi jika tidak ada maka kita inapkan dulu di Grha Mandalika,” ujar Fikri.

Ditekankan Fikri seluruh penanganan yang telah disiapkan oleh Pemprov NTB diharapkan dapat memberikan rasa aman di masyarakat, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan. Proses penanganan di NTB sendiri sampai saat ini terus mengantisipasi adanya penyebaran corona.

“Kewaspadaan itu lebih awal lebih bagus. Itu yang kami lakukan prosedur tetap di sini,” pungkasnya. (bay)