RSUD Mataram Janji Tak akan Tolak Pasien Miskin

Lalu Herman Mahaputra (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Manajemen rumah sakit umum daerah (RSUD) Kota Mataram, mulai awal tahun 2020 memastikan tidak akan menolak pasien kurang mampu dengan alasan tidak tersedia kamar. Tenaga medis menolak dan melakukan pelanggaran akan dipecat.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah, dr. H. Lalu Herman Mahaputra menyampaikan, manajamen rumah sakit memiliki kebijakan tidak akan menolak pasien terutama masyarakat miskin pengguna kamar kelas tiga.

Iklan

Bilamana ruang rawat inap kelas tiga penuh akan dinaikan ke kelas dua. Tetapi pada saat itu, kamar kelas dua penuh akan dinaikkan ke kamar kelas satu sampai VIP. Penerapan kebijakan ini, rumah sakit plat merah sudah memulai sejak awal tahun 2020 lalu.

“Kita sudah mulai sejak awal Januari,” akunya ditemui, Senin, 10 Februari 2020.

Untuk pembayaran masyarakat tidak perlu khawatir. Pengenaan tarif akibat kebijakan naik kelas karena kamar penuh tetap dibayar dengan tarif kelas tiga oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Hal ini menjadi komitmen Pemkot Mataram. Jack sapaan akrabnya mengaku, sudah menyampaikan kebijakan tersebut ke Walikota Mataram,H. Ahyar Abduh.

“Saya sudah sampaikan ke Pak Wali dan Pak Sekda,” tandasnya.

Kemungkinan pasien yang naik kelas khususnya kelas tiga akan diatur terutama kunjungan dari keluarga pasien. Pihaknya tidak melarang berkunjung atau menjenguk keluarga mereka. Tetapi juga perlu menjaga atau menghormati privasi dari pasien lainnya. Dia menganalogikan daripada kamar yang akan ditempati oleh pasien BPJS kelas tiga kosong.

Sementara, rumah sakit harus membayar gaji karyawan, sarana pendukung seperti air, listrik dan lain sebagainya. Lebih baik masyarakat menempati untuk mendapatkan pelayanan.

Konsekuensi dari kebijakan tersebut akan menimbulkan kerugian dinilai wajar. Sebagai rumah sakit milik pemerintah dinilai tidak masalah. Sebab, pihaknya tidak memiliki target apapun untuk memenuhi pendapatan asli daerah.

“Kami memberikan pelayanan masyarakat. Itu bentuk komitmen Pemkot Mataram. Tidak ada alasan menolak pasien baik miskin maupun kaya,” tandasnya.

Kebijakan tersebut telah disampaikan di tataran manajamen rumah sakit hingga petugas medis. Seandainya, petugas medis ketahuan menolak pasien miskin akan dipecat. Memastikan hal itu, manajer pelayanan diminta khusus mencari masalah di tingkat bawah untuk dicarikan solusi. (cem)