RSUD Kota Mataram akan Rumahkan Karyawan

Seorang warga melintas di depan RSUD Kota Mataram di Jalan Bung Karno. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram, akan merumahkan sejumlah karyawannya. Kebijakan ini lantaran turunnya pendapatan akibat penerapan sistem rujukan berjenjang.

Direktur RSUD Kota Mataram, dr. H. Lalu Herman Mahaputra menegaskan, kebijakan merumahkan karyawan tak buru – buru dilakukan. Ia akan melihat perkembangan penerapan sistem berjenjang sampai bulan Desember mendatang. “Kita masih ada waktu sampai Desember. Ndak sih buru-buru kita rumahkan,” katanya dikonfirmasi Kamis, 25 Oktober 2018.

Iklan

Sistem rujukan berjenjang oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang kesehatan diterapkan mulai 1 Oktober benar – benar dirasakan dampaknya. Dokter Jack, demikian sapaan akrab Direktur RSUD Mataram ini mengaku, perawatan medis khususnya rawat jalan turun drastis. Secara otomatis pendapatan juga berimbas.

Sementara ini, ia akan melihat perkembangan penerapan tersebut. Manajemen RSUD akan mencoba berinovasi dengan memanfaatkan fasilitas yang ada sebelum menempuh kebijakan itu. “Pendapatan ada turun 20 persen,” sebutnya.

Pihaknya tak ingin reaktif menyikapi aturan pemerintah pusat. Karena, layanan rujukan berjenjang akan dievaluasi. Di samping itu, rumah sakit rujukan juga akan dievaluasi.

Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi menegaskan, pemberhentian staf harus didasarkan atas aturan. Manajemen RSUD dalam mengambil keputusan harus menganalisa dulu sebelum merasionalisasi. Keputusan mengangkat karyawan dulu diyakini telah dipertimbangkan sebagai badan layanan umum daerah (BLUD). Berapa keuntungan dan pengeluarannya. “Saya kira perlu dipertimbangkan dulu,” kata dia.

Kalau misalnya manajemen RSUD berdalih akibat penerapan sistem rujukan berjenjang, dinilai bukan alasan tepat. Persoalan ini harus didalami, apakah sifatnya kasuistis atau kontemporer. Didi menyarankan manajemen RSUD berhati – hati. Jangan sampai mengabaikan aturan justru merugikan orang lain. Sebaiknya perlu mendesain atau berinovasi kembali.

Kehilangan Pekerjaan

Di satu sisi, rencana merumahkan sebagian karyawan menjadi kekhawatiran para tenaga medis. Terutama bagi bidan dan perawat yang berstatus sebagai pegawai tidak tetap.

Seorang perawat poli yang enggan menyebutkan identitasnya khawatir bakal kehilangan pekerjaan. Sebab, peluang mencari pekerjaan khususnya tenaga kesehatan sangat sulit. Di satu sisi, saingan semakin tahun semakin banyak. “Terus gimana nasib kita,” jawabnya pasrah.

Kebijakan merumahkan karyawan diharapkan tak berimbas terhadapnya. Dia berdoa ada solusi lain, sehingga tak merugikan karyawan. (cem)