Rp2 Triliun Dana Bantuan Gempa Nganggur

Mohammad Rum (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemda kabupaten/kota didesak menentukan zonasi pembangunan Rumah Tahan Gempa (RTG). Pasalnya, masyarakat masih berlama-lama menentukan pilihannya soal jenis RTG yang akan dibangun.

Dana bantuan stimulan yang sudah ditansfer pemerintah pusat ke NTB sudah mencapai Rp5,1 triliun. Dari jumlah itu, baru Rp2,9 triliun lebih dana bantuan yang sudah ditransfer ke rekening Pokmas. Artinya, masih ada Rp2 triliun lebih dana bantuan yang masih nganggur alias berada di rekening masyarakat.

Iklan

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Ir. H.Mohammad Rum, MT yang dikonfirmasi Suara NTB mengatakan, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban gempa sebenarnya sudah luar biasa. Data BPBD NTB, sampai 30 April 2019, rumah yang sudah selesai direhabilitasi dan rekonstruksi sebanyak 27.550 unit. Dengan rincian, rusak berat sebanyak 5.815 unit, rusak sedang 4.832 unit dan rusak ringan 16.903 unit.

‘’Sebenarnya ini sudah percepatan luar biasa. Cuma yang penting sekarang adalah bagaimana masyarakat jangan berlama-lama menentukan jenis RTG yang digunakan,’’ kata Rum.

Ia menjelaskan,  pemerintah pusat memberikan Pemda diskresi terkait dengan zonasi jenis RTG yang akan dibangun di daerah terdampak bencana. Jika masyarakat lelet dalam memilih jenis RTG, menurutnya, bupati/walikota dapat melakukan intervensi. Bahwa pada daerah tertentu RTG yang dibangun seragam jenisnya.

‘’Ada 13 jenis RTG, silakan dibagi-bagi zonasinya sesuai dengan kemampuan aplikator,’’ ujarnya.

Rum menyebutkan, baru tiga kabupaten/kota yang telah menggunakan diskresi dalam menentukan zonasi pembangunan RTG. Yakni Kota Mataram dan Lombok Tengah untuk jenis RTG Riko dan Risha. Kemudian Lombok Timur dengan jenis RTG Riko, Risha dan Risba.

‘’Sekarang yang belum kita mendengarkan justru di Lombok Utara, Lombok Barat yang memang paling banyak kerusakannya. Ini perlu segera dipercepat untuk memutuskan diskresi terkait RTG per zonasi per desa,’’ tegasnya.

Rum berharap Pemda membuat tim untuk menentukan daerah mana saja yang menggunakan RTG jenis tertentu. Termasuk RTG jenis Rumah Instan Kayu (Rika). ‘’Rika ini sudah kita sepakati pada daerah-daerah untuk menyokong destinasi wisata seperti Kerujuk. Itu akan pakai rumah kayu,’’ tambah Rum.

Ia mengatakan,  masyarakat tidak perlu khawatir dengan rumah beton. Sepanjang strukturnya bagus, kalaupun terjadi gempa tidak akan membahayakan bagi penghuninya.

‘’Tolong segera masyarakat jangan lama-lama menentukan jenis RTG. Ketika masyarakat bingung, perlu diskresi Pemda, membantu masyarakat menentukan pilihannya terkait RTG,’’ pesannya.

Terkait dengan pendebetan bantuan stimulan dari rekening masyarakat ke rekening Pokmas diakui masih lamban. Dari Rp5,1 triliun bantuan stimulan yang sudah ditransfer pemerintah pusat, sekitar Rp2 triliun lebih yang belum ditransfer ke rekening Pokmas.

‘’Ini di samping masyarakat belum menentukan sikap jenis RTG. Kami harapkan yang sudah menerima bantuan stimulan segera membentuk Pokmas. Dan segera melakukan pendebetan rekening ke rekening Pokmas,’’ katanya mengingatkan. (nas)