RKB Darurat, SMAN 1 Tanjung Khawatirkan Musim Hujan

Kondisi RKB di SMAN 1 Tanjung yang memprihatinkan. Pemprov NTB harus segera memperbaiki bangunan sekolah ini agar siswa bisa belajar dengan nyaman. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Penyelenggara kegiatan belajar mengajar SMAN 1 Tanjung hingga kini masih berlangsung di kelas darurat. Seiring masuknya musim hujan, penyelenggara sekolah khawatirkan musim hujan yang sewaktu-waktu bisa mengenai ruang kelas siswa.

Kepala SMAN 1 Tanjung, Drs. Marijo, kepada wartawan Rabu, 8 Januari 2020 mengakui, siswanya masih belajar di RKB darurat. Sekolah yang dipimpinnya mengalami kerusakan akibat gempa. Di mana akibat gempa itu, sebanyak 10 ruang kelas mengalami kerusakan parah. Begitu pula 7 ruangan lain, seperti ruang guru, perpustakaan, ruang TU, ruang UKS termasuk ruang kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.

Iklan

“Jadi anak-anak terpaksa belajar di kelas darurat yang ada di depan (menunjuk halaman depan). Kalau siang, siswa mengeluhkan panas, belum lagi bising kendaraan melintas” ungkap Marijo.

Tidak hanya cuaca panas, musim hujan yang sudah tiba juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Pasalnya, hujan awal Januari lalu cukup berdampak pada kondisi ruang kelas. Hujan lebat membuat RKB siswa, ruang guru dan ruang Kepsek digenangi air. “Untungnya saat itu libur, tapi kita tidak tahu kalau besok-besok ada lagi (hujan lebat)” keluhnya.

Menyikapi kondisi itu, pihak sekolah sejatinya sudah melaporkan kondisi bangunan SMAN 1 Tanjung kepada Pemprov NTB. Jawaban yang diperoleh, sekolah ini mendapat penanganan tahun 2020.  Melihat situasi yang ada, Marijo berharap agar instansi terkait di Pemprov NTB melakukan penanganan segera. Setidaknya bangunan baru bisa ditempati untuk kebutuhan ujian akhir siswa.

Selain pembangunan RKB, Marijo mengakui telah mengusulkan rekonstruksi pada bangunan bagian depan. Sebab bangunan yang terdampak oleh gempa itu berusia 30 tahun. Meski tidak roboh, namun ketinggian pondasinya yang lebih rendah dari drainase menyebabkan bangunan rawan tergenang air hujan.

“Sebenarnya banyak yang masih kita perlukan, seperti lapangan basket yang tidak sesuai ukuran. Tetapi yang urgent itu RKB, apalagi kondisinya memprihatinkan,” tandasnya. (ari)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional